Minggu, 07 Agustus 2016
Kamis, 04 Agustus 2016
Mencapai Garis Akhir
1Di hadapan Allah dan Kristus
Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan
sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2Beritakanlah firman, siap
sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
3Karena akan datang waktunya,
orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan
guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4Mereka akan memalingkan
telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
5Tetapi kuasailah dirimu dalam
segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan
tunaikanlah tugas pelayananmu!
6Mengenai diriku, darahku
sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
7Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman.
8Sekarang telah tersedia
bagiku mahkota kebenaraan yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim
yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada
semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. ( 2 Timotius 4:1-8)
Ayat ini ditulis oleh Paulus kepada Timotius karena menyadari
akan kemungkinan penganiayaan berat dari luar gereja dan adanya guru-guru palsu
di dalam gereja. Paulus menasihatkan Timotius agar dia memelihara Injil,
memberitakan Firman Allah, menanggung kesukaran dan melaksanakan
tugas-tugasnya. Dalam ayat ini tertulis juga perkataan Paulus yang ia tuliskan
sebelum pelaksanaan hukuman mati oleh kaisar Nero di Roma hampir 35 tahun
setelah pertobatannya kepada Kristus di jalan Damsyik (ay. 6). Sebagai bapak
rohani, ia sungguh mengasihi Timotius karena ia tahu Timotius adalah orang yang
baik, tulus dan setia dan dapat dipercaya untuk terus melanjutkan tugas
pelayanan. Ia mendorong Timotius untuk terus melaksanakan tugas pemberitaan
Injil, menegor dan menasehati jemaat, karena akan ada masa di mana orang
percaya tidak ingin lagi mendengar Injil yang asli, tetapi akan memalingkan
muka/mencondongkan hati untuk lebih tertarik pada dongeng dan injil palsu. Mereka
akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan
telinga (ay.3). Mereka tidak akan mencari gembala menurut standar Firman Allah,
tetapi mencari orang yang sesuai dengan keinginan duniawi mereka. Mereka akan
memilih pengkhotbah yang pandai berpidato, mampu menghibur, dan berita yang
akan meyakinkan mereka bahwa mereka dapat tetap menjadi Kristen sementara hidup
menurut tabiat dosa.
Firman Allah yang tertulis harus menjadi pedoman tertinggi dalam
kebenaran dan kelakuan kita. Kita harus memakai firman Allah yang diberikan
oleh Roh Kudus sebagai pedoman untuk menilai kepercayaan dan kelakuan kita.
Kecenderungan gereja untuk mendasarkan doktrin kelakuan, atau kebenaran baru
pada pengalaman sendiri, mujizat, sukses, tujuan atau teori buatan manusia
tanpa pembuktian alkitabiah yang kokoh, akan merupakan salah satu ciri utama
Iblis untuk menipu dalam kemurtadan di hari-hari terakhir. Yesus mengingatkan
semua orang percaya agar berjaga-jaga secara khusus terhadap orang yang mengaku
dirinya sebagai nabi, guru dan pengkhotbah Kristen tetapi yang sebenarnya
palsu, namun mereka mengadakan mujizat, penyembuhan dan tanda-tanda ajaib serta
tampaknya sangat berhasil dalam pelayanan mereka. Pada saat yang bersamaan,
nabi-nabi palsu ini akan memutarbalikkan dan menolak kebenaran dalam Firman
Allah, (tentu saja tidak semua hamba-hamba Tuhan yang saat ini banyak melakukan mujizat adalah nabi palsu. Kita juga harus bisa membedakan!) Dalam injil Matius 7:22-23 tertulis: “Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Rasul Paulus telah menjadi teladan yang nyata kepada semua orang
percaya karena imannya yang sungguh-sungguh murni dihadapan Tuhan. Ia telah
berusaha di dalam peperangan iman, dalam terjemahan lama, “Aku telah berjuang
dalam perjuangan yang baik.” Ketika meninjau kembali hidupnya bersama Allah,
Paulus sadar bahwa ajalnya sudah dekat (ay.6). Ia melukiskan hidup kristennya
sebagai berikut: Ia memandang hidup kristennya sebagai suatu peperangan. Ia
berperang melawan Iblis, keburukan orang Yahudi dan kafir, Yudaisme, kebejatan
dalam gereja, guru-guru palsu, pemutarbalikan Injil, keduniawian, dan dosa. Ia
juga telah menyelesaikan pertandingannya di tengah pencobaan dan godaan dan
tetap setia kepada Tuhan dan Juruselamatnya selama hidup. Paulus sudah
memelihara iman pada masa-masa ujian yang berat, keputusasaan yang hebat dan
banyak kesusahan, baik ketika diserang oleh guru palsu maupun ditinggalkan oleh
sahabat. Paulus tidak pernah mengurangi Injil asli.
Karena Paulus tetap setia
kepada Tuhannya dan Injil yang dipercayakan kepadanya, maka Roh Kudus bersaksi
kepadanya bahwa persetujuan Allah dan “mahkota kebenaran” tersedia bagi dia di
sorga.
Semoga Firman Tuhan ini akan terus menjadi pedoman bagi kita
semua untuk sungguh-sungguh memelihara iman yang murni di dalam Tuhan, dan
berpegang teguh pada Injil asli, tidak terpengaruh atau percaya pada pengajaran
palsu yang sekarang ini semakin berkembang. Paulus menjadi teladan yang indah
bagi kita semua untuk menjalani hidup di dunia ini dengan usaha keras untuk
berlari sampai garis finish, dan memenangkan pertandingan. Di sorga Allah telah
menyiapkan pahala bagi semua orang yang setia pada kebenaran. Amin!
Selasa, 31 Mei 2016
Melihat Diri Sendiri seperti TUHAN Melihat
Berfirmanlah TUHAN kepadanya:
“Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang
Midian itu sampai habis.” (Hakim-hakim 6:16)
Firman Tuhan dalam ayat ini menceritakan seorang yang bernama
Gideon. Gideon, seorang muda berasal dari suku Manasye. Dia dipilih Tuhan untuk
membebaskan bangsa Israel dari tangan orang Midian. Tuhan mengizinkan bangsa
Israel dikuasai oleh bangsa Midian selama 7 tahun karena bangsa Israel berbuat
jahat dimata Tuhan. Mereka sangat menderita karena perbuatan jahat orang
Midian, mereka menjadi sangat melarat dan akhirnya berseru kepada Tuhan dan
Tuhan menjawab seruan mereka. Tuhan mengutus Gideon. Sebagai manusia biasa
Gideon merasa tidak mampu untuk membebaskan bangsanya dari tangan bangsa
Midian, tapi Tuhan melihat Gideon dengan cara yang berbeda. Tuhan melihat bahwa
Gideon mampu melakukannya.
Setiap orang memiliki sebuah gambaran tentang dirinya.
Pertanyaannya adalah, apakah gambaran tentang siapa diri kita sesuai dengan
apa yang Tuhan katakan tentang siapa diri kita? Pribadi-pribadi yang melihat
diri mereka seperti Tuhan melihat biasanya mereka bahagia dengan keadaan
mereka. Mereka tahu bahwa mereka diciptakan dalam gambar Tuhan dan Ia telah
memahkotai mereka dengan kehormatan yang besar. Mereka merasa senang dengan
diri mereka sendiri, karena mereka tahu bahwa Tuhan mengasihi mereka. Tuhan
ingin kita melihat diri kita sendiri sebagai harta karun yang sangat berharga.
Ia ingin kita senang dengan diri kita sendiri. Tuhan mengetahui bahwa kita
tidak sempurna, bahwa kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun demikian
Tuhan tetap mengasihi kita. Ia telah menciptakan kita sesuai gambar-Nya, dan Ia
terus menerus membentuk kita, menyesuaikan kita dengan karakter-Nya, menolong
kita dalam kehidupan kita.
Kita harus belajar untuk mengasihi diri kita sendiri
karena begitulah Tuhan melihat kita. Tuhan ingin supaya kita merasa bahwa kita
dapat melakukan sesuatu yang besar, tetapi terkadang kita berkata: “Aku bukan siapa-siapa.”,
aku tidak bisa melakukannya. Dalam Hakim-hakim 6:12, malaikat Tuhan berkata
kepada Gideon, “Tuhan besertamu, hai pahlawan yang gagah perkasa!” Saat
malaikat itu meneruskan mengatakan kepada Gideon bagaimana Tuhan
menginginkannya menyelamatkan umat Israel dari orang-orang Midian, suatu bangsa
yang bengis dan kafir yang telah menjajah negeri mereka, Gideon memperlihatkan gambaran dirinya yang asli. Ia menjawab, “Bagaimana mungkin engkau mengharapkan aku
menyelamatkan bangsa Israel? Aku berasal dari kaum terkecil dari seluruh suku
Manasye. Dan aku adalah yang paling muda dari keluarga ayahku.” Tetapi memang
menarik jika memperhatikan cara Gideon melihat dirinya sendiri dan cara Tuhan
memandangnya. Walaupun Gideon merasa tidak memenuhi syarat, ketakutan, dan kekurangan rasa percaya diri,
Tuhan masih menyebutnya sebagai seorang pahlawan yang gagah berani. Gideon
merasa lemah Tuhan memandangnya sebagai orang kuat. Gideon merasa tidak
memenuhi syarat, Tuhan memandangnya sebagai orang yang mampu melakukan pekerjaan
itu. Gideon tidak merasa aman, Tuhan memandangnya cukup mempunyai rasa percaya
diri dan ketegasan untuk memimpin umat-Nya kedalam peperangan dan keluar
sebagai pemenang. Dan Gideon berhasil. Demikian juga dengan kita. Tuhan
memandang kita sebagai seorang pemenang. Mungkin kita tidak melihatnya, tapi
Tuhan melihat. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah mempercayai Dia, dan mulai
berpikir hal yang baik mengenai diri kita. Tuhan ingin kita menjadi seorang
pemenang. Tuhan ingin kita menjadi seorang pemenang dari gambaran diri yang
buruk, citra diri yang buruk, dan menjadi pemenang dalam kehidupan yang penuh
dengan perbuatan dosa. Tuhan ingin menjadi pemenang untuk mengalahkan perbuatan
jahat yang mengusai seluruh hidup dan pikiran kita. Tuhan ingin kita menjadi
pemenang atas dosa, kuasa jahat iblis yang berusaha untuk menjatuhkan kita.
Tuhan ingin kita menjadi
pemenang, dan Tuhan ingin memakai kita menjadi alat-Nya untuk membebaskan
mereka yang sedang menderita karena perbuatan dosa. Mereka tidak tahu tentang Tuhan
yang benar, mereka tidak tahu tentang Jesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat manusia. Mereka tidak tahu tentang kabar baik keselamatan… Kita
adalah salah seorang yang ditugaskan Tuhan untuk melakukan tugas itu! Hargai
diri kita seperti yang Tuhan ciptakan, dan supaya kita menjadi efektif dalam
mengungkapkan kasih Tuhan kepada sesama, amin!
Jumat, 01 April 2016
Juruselamat
Ada seorang pendaki gunung muda, yang begitu penuh kemandirian dan yakin
bahwa ia tidak membutuhkan siapapun. Dia juga tidak membutuhkan Tuhan…
Suatu malam, ia berdiri di tepi
tebing terjal tingginya kira –kira 1000 kaki di atas lantai lembah. Tali yang
dia gunakan lepas, sahabat hilang dan di duga tewas, hujan begitu deras, dan
malam yang gelap gulita melanda dirinya, dan tanpa harapan hidup ia merasa
bahwa ia akan mati. Tiba-tiba batu di mana ia berdiri runtuh, namun ia masih
ingin hidup dan tidak siap untuk mati. Dalam keputusasaannya orang yang tidak
percaya ini berseru kepada Allah untuk menyelamatkannya. Ia membutuhkan Tuhan
yang bisa menggerakkan atau memindahkan langit dan bumi, Allah yang Mahakuasa
dan Tuhan yang bisa memindahkan langit dan bumi untuk seseorang yang bahkan
tidak percaya kepada-Nya. Ia perlu Tuhan yang akan bertindak cepat, tanpa harus
mendapatkan kasih sayang dari dirinya..Dia membutuhkan Tuhan yang bersemangat
dan bergairah dalam kasih-Nya baginya, Allah yang kuatir tentang dia sebagai
individu.
Sepertinya orang ini egois, tapi Tuhan datang menolongnya. Pada saat itu
ia baru menyadari bahwa tali ternyata ada dalam genggaman tangannya. ia merasa
Tuhan membimbing dia ke dinding batu terjal di kegelapan malam, melewati granit
lapuk dan air terjun sampai ia mencapai bawah bahkan tanpa goresan sedikitpun. Itu
hal yang mustahil dan tidak mungkin, kata pendaki yang lain. Namun kenyataannya
memang itu terjadi. Allah mampu menyelamatkan seseorang yang berseru memanggil
nama-Nya. Allah adalah Mahakuasa. Hanya Allah dalam Alkitab yang Maha Kuasa dan Maha Kasih. Dia berkuasa dan
mampu memindahkan langit dan bumi, dan Dia sangat mencintai kita, sehingga Ia
rela lahir ke dalam dunia dalam wujud seorang manusia yaitu Yesus untuk
memberikan hidup-Nya bagi kita.
Tuhan adalah kudus dan standarnya sempurna. “Karena itu haruslah kamu
sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).
Banyak sekali dosa dan kesalahan yang kita lakukan dan dosa itu memisahkan kita
dari Tuhan. Kita membutuhkan seseorang yang mampu menyempurnakan hidup kita.
Seseorang yang mampu membayar kesalahan kita. Seseorang yang mampu mengampuni
dan menghapus kesalahan kita. Seseorang yang mengasihi kita dengan kasih yang
tulus.. Seseorang yang sanggup menyelamatkan jiwa kita dari kebinasaan kekal di
neraka Seseorang yang begitu memperhatikan kehidupan kita. Adakah seseorang
yang ada dalam pikiran kita sanggup melakukan hal ini? Tidak ada. Hanya Tuhan
yang sanggup melakukan hal ini. Tuhan sanggup lakukan itu, sehingga Ia mengirim
Yesus ke bumi untuk menyelamatkan kita. Apakah Yesus sanggup menyelamatkan
kita? Pasti sanggup, karena Dia adalah Tuhan. Kehidupan-Nya sempurna di bumi
sampai Ia mati di atas kayu salib untuk membayar kesalahan kita. Ketika kita
berkata kepada Tuhan untuk mengampuni kita, Yesus menaruh kesalahan kita kepada-Nya,
dan menaruh kebenaran-Nya kepada kita supaya kita dapat berdiri di hadapan-Nya,
Allah yang kudus, bersih dan suci.
Apakah Anda perlu diselamatkan? Mengakulah kepada Tuhan bahwa engkau
adalah seorang berdosa dan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri, dan kemudian
terimalah hadiah gratis yaitu keselamatan yang menjanjikan pengampunan dan
hidup bersama Dia, selamanya!
Catatan: Juruselamat, Yesus Kristus, Tuhan! Sebagai Juruselamat
Ia telah datang untuk membebaskan kita dari dosa, dunia yang jahat, ketakutan,
kematian, dan hukuman atas pelanggaran kita. Juruselamat telah diurapi sebagai
Mesias yang datang dari Allah dan Tuhan yang memerintah umat-Nya. Tak
seorangpun dapat memiliki Yesus sebagai Juruselamat tanpa tunduk kepada
ketuhanan-Nya.
Kamis, 07 Januari 2016
Jumat, 01 Januari 2016
Selasa, 07 April 2015
Dukacita Tanda Kehidupan
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Matius 5:4)
Setiap
manusia mempunyai masalah yang berbeda-beda. Masalah-masalah itu bisa
diakibatkan karena dosa, kesalahan sendiri, juga iblis. Ada masalah
yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup manusia walaupun manusia itu
tidak melakukan kesalahan dihadapan Tuhan. Contoh yang sangat jelas
dalam Alkitab adalah Ayub. Ayub tidak melakukan kesalahan dihadapan
Tuhan, tapi ia mengalami cobaan yang sangat berat. Anak-anaknya lelaki
dan perempuan meninggal dunia, semua ternak, lembu, sapi, kambing domba
semua hilang. Bukan hanya itu, Tuhan mengizinkan Ayub dicobai iblis.
Iblis menimpakan barah yang busuk dari telapak kaki sampai kepalanya,
namun Ayub tetap tidak berbuat dosa dan menyalahkan Tuhan walaupun
istrinya menyuruh dia mengutuki Tuhan. Namun karena kesetiaannya kepada
Tuhan semua yang hilang dikembalikan oleh Tuhan 2x lipat, ia mendapat
anak-anak yang cantik-cantik, dan ia juga disembuhkan dari penyakitnya.
Dukacita Ayub berganti sukacita.
Cerita ini mungkin memiliki kesamaan dalam hidup saudara. Bersyukur
karena saudara adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan...tapi
bagaimana jika cobaan yang dialami adalah akibat dari dosa dan
kesalahan kita?
Firman Tuhan ini berbicara tentang dukacita. "Blessed are those who mourn". Dukacita
yang dimaksud dalam ayat ini adalah merasa sedih atas kelemahan kita
sendiri karena tidak mampu memenuhi standar Allah. Ini juga berarti
berdukacita karena hal-hal yang menyedihkan hati Allah, berdukacita
karena dosa, kebejatan dan kekejaman dalam dunia. Rasul Paulus
dalam pelayanannya banyak mencucurkan airmata dan banyak mengalami
pencobaan dari orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Airmata Paulus bukan
tanda kelemahan. Paulus menangis berdukacita karena keterhilangan umat
manusia (menangis karena manusia yang terhilang), kejahatan, dosa,
pemutarbalikan Injil dan bahaya yang serius karena menolak Tuhan. Pada
waktu memasuki kota Yerusalem, Yesus juga pernah menangisi kota
tersebut. Yesus menangisi kota Yerusalem karena mengetahui bahwa umat
Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya mengharapkan seorang Mesias yang
bergerak dalam bidang politik dan mereka akhirnya menolak Yesus sebagai
Mesias yang dijanjikan Allah. Yesus menangis karena Ia begitu mengasihi
umat itu dan mereka akan mengalami hukuman yang dashyat. Kata "menangis"
dalam bahasa Yunani tidak hanya meneteskan airmata. Kata "menangis" di
sini menunjukkan terjadinya ratapan, raung, tangisan, rasa sesak
didada__isak dan tangisan jiwa yang menderita. Sebagai Allah, Yesus
menampakkan bukan hanya perasaan-Nya sendiri, tetapi juga hancurnya hati
Allah atas keterhilangan umat manusia dan penolakan mereka untuk
bertobat dan menerima keselamatan.
Bagaimana perasaan kita saat melihat atau melakukan dosa, kesalahan dan
kebejatan? Adakah perasaan berduka karena dosa dan kesalahan yang kita
buat dan kita lihat? Seorang penulis menuliskan: "Jika kita tidak merasa bersalah jika melakukan dosa atau kesalahan, berarti hati nurani kita sudah rusak". Tuhan
melihat hati kita. Tuhan melihat hati kita yang hancur dan sedih karena
dosa dan kesalahan yang kita buat dan kita lihat. Tuhan melihat hati
yang penuh penyesalan akan dosa. Tuhan mau dalam kesedihan kita, kita
datang kepada Tuhan dan bertobat dari dosa-dosa yang kita buat. Tuhan
mau dengan hati yang sangat sedih kita datang kepada Tuhan dalam
permohonan untuk pertobatan mereka yang terhilang.Tuhan akan menghibur
kita dan kebenaran akan dinyatakan. Jika ada perasaan berduka dalam diri
kita, ingat bahwa dukacita kita akan berganti sukacita, karena
kebenaran, damai dan sukacita dari Allah akan dinyatakan. Walaupun ada
yang menolak kebenaran tapi dukacita kita tidak akan sia-sia. Allah
pasti menghibur orang yang berduka. Kita akan dihibur oleh kebenaran
Allah. Mari, miliki hati yang berduka karena dosa-dosa kita dan
jiwa-jiwa yang terhilang!
Langganan:
Postingan (Atom)
