Rabu, 12 April 2017

PASKAH



“Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya, itulah Paskah bagi Tuhan.” (Kel. 12:11)



Sejarah Paskah

Sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekitar tahun 1445 SM, orang Ibrani (kemudian disebut orang Yahudi) telah merayakan Paskah setiap tahun di musim semi.

Setelah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun lebih, Allah menetapkan untuk membebaskan keturunan Abraham, Ishak dan Yakub itu dari perbudakan. Ia membangkitkan Musa dan menugaskannya untuk memimpin bangsa itu keluar dari Mesir. Dalam ketaatan pada kehendak Allah, Musa menghadapi Firaun dengan mandat Allah, “Biarkan umat-Ku pergi.” Untuk menekankan kesungguhan amanat Tuhan ini kepada Firaun, maka Musa dengan kuasa Allah, mendatangkan berbagai tulah atas Mesir sebagai hukuman. Ketika terjadi beberapa tulah, Firaun bersedia melepaskan umat Israel, tetapi ia menarik kembali keputusannya itu setelah tulahnya hilang. Pada tulah ke-10 (tulah terakhir), Allah mengutus malaikat kematian ke seluruh tanah Mesir untuk membunuh “semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang.”

Orang Israel juga tinggal di Mesir, bagaimana mereka dapat luput dari malaikat maut itu? Tuhan memberi perintah khusus kepada umat Israel, jika mereka mentaati perintah itu, setiap keluarga dan anak sulung mereka akan dilindungi. Setiap keluarga harus mengambil seekor anak domba jantan berumur satu tahun dan tanpa cacat untuk dibunuh pada waktu senja pada tanggal 14 bulan Abib; keluarga yang kecil dapat berbagi seekor anak domba. Sebagian darah anak domba yang tersembeli itu harus dipercikkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka. Ketika malaikat maut melewati daerah itu, ia akan melewati rumah-rumah yang tiang pintu dan ambang atasnya telah diperciki darah. Demikianlah oleh darah anak domba yang tersembelih, orang Israel luput dari hukuman yang menimpa semua anak sulung Mesir. Allah memerintahkan tanda darah itu bukan karena Ia tidak bisa membedakan orang Israel dari orang Mesir, tetapi karena Ia ingin mengajar umat-Nya tentang pentingnya ketaatan dan penebusan dengan darah, dan dengan demikian mempersiapkan bagi “Anak Domba Allah” yang kemudian akan menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Pada malam itu pula orang Israel sudah harus siap untuk berangkat. Mereka diperintahkan untuk memanggang, tidak merebus anak domba yang tersembelih, serta menyediakan sayur pahit dan roti yang tidak beragi. Ketika malam tiba, mereka sudah siap untuk memakan makanan itu dan berangkat dengan cepat ketika orang Mesir datang dan memohon mereka untuk meninggalkan negeri itu. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan (Keluaran 12:29-36).



Paskah Dalam Sejarah Israel/Yahudi

Sejak saat yang bersejarah itu, umat Allah selalu merayakan Paskah pada setiap musim semi, sebagai tanggapan pada perintah-Nya bahwa “Paskah merupakan ketetapan untuk selamanya” (Keluaran 12:14). Akan tetapi, Paskah merupakan tanda peringatan. Hanya korban yang disembelih di Mesirlah yang merupakan korban yang efektif. Sebelum Bait Suci didirikan, setiap hari Paskah orang Israel berkumpul di rumah, menyembelih seekor anak domba, menyingkirkan semua ragi dari rumah mereka dan makan sayur pahit. Yang lebih penting lagi, mereka menceritakan kembali kisah keluaran luar biasa para leluhur mereka dari Mesir dan perbudakan Firaun. Jadi, dari angkatan ke angkatan, umat Ibrani ingat akan penebusan dan pembebasan mereka dari Mesir. Ketika Bait Suci selesai dibangun, Allah memerintahkan bahwa perayaan Paskah dan penyembelihan anak domba dilaksanakan di Yerusalem. Alkitab mencatat perayaan Paskah yang istimewa di kota kudus itu.

Paskah juga dirayakan oleh orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru. Satu-satunya peristiwa masa kecil Yesus yang tercatat terjadi ketika orang-tua-Nya membawa Dia ke Yerusalem pada usia 12 tahun untuk merayakan Paskah (Lukas 2:41-50). Pada waktu selanjutnya, Yesus secara tetap pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Yohanes 2:13), Perjamuan terakhir dari Yesus bersama murid-murid-Nya di Yerusalem, sesaat sebelum disalib, merupakan perjamuan Paskah (Matius 26:1-2, 17-19). Yesus sendiri disalibkan pada hari Paskah, sebagai Anak Domba Paskah itu (1 Korintus 5:7) yang membebaskan semua orang percaya dari dosa dan kematian.

Orang Yahudi dewasa ini masih merayakan Paskah, walaupun sifatnya sudah agak berubah. Karena tidak ada lagi Bait Suci di Yerusalem di mana seekor anak domba dapat disembelih, perayaan Yahudi masa kini di sebut Seder, tidak lagi dirayakan dengan anak domba yang disembelih. Namun, keluarga masih berkumpul, semua ragi dibuang dengan upacara khusus dari rumah-rumah Yahudi, dan kisah keluaran  dari Mesir diceritakan kembali oleh kepala keluarga.



Paskah Bagi Orang Kristen

Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena menunjuk kepada Yesus Kristus. Perjanjian Baru dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan “bayangan dari apa yang harus datang”, yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Allah mengeluarkan orang Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, tetapi karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjian-Nya. Demikian pula keselamatan yang kita peroleh dari Kristus adalah kasih karunia Allah yang menakjubkan.

Darah yang dipercikkan pada tiang pintu dan ambang atasnya dimaksudkan  untuk menyelamatkan anak sulung dalam setiap keluarga dari kematian; darah ini menunjuk kepada penumpahan darah Yesus di salib supaya menyelamatkan kita dari kematian dan dari murka Allah terhadap dosa. Anak domba Paskah itu adalah sebuah korban yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung; korban ini menunjuk kepada kematian Yesus Kristus sebagai ganti kematian orang percaya. Paulus secara tegas menyebut Kristus anak domba Paskah yang dikorbankan demi kita. Anak domba jantan yang akan disembelih haruslah “tanpa cacat” (Keluaran 12:5); anak domba itu melambangkan ketidakberdosaan Kristus, Anak Tunggal Allah yang sempurna.

Memakan daging anak domba itu melambangkan pemanunggalan masyarakat Israel dengan kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmani. Demikian pula, ikut serta dalam Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus, kematian yang menyelamatkan dari kematian rohani (1 Korintus 10:16-17; 11:24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah, hanyalah korban yang pertama, kematian-Nya di salib, menjadi korban yang efektif. Kita mengadakan Perjamuan Kudus sebagai suatu “peringatan” akan Dia (1 Korintus 11:24). Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang atasnya dilaksanakan dengan iman yang taat; tanggapan iman ini mendatangkan penebusan melalui darah (Keluaran 12:7,13). Keselamatan melalui darah Kristus diperoleh hanya melalui “ketaatan yang disebabkan oleh iman” (Roma 1:5; 16:26). Anak domba Paskah harus dimakan dengan roti yang tidak beragi, karena ragi dalam Alkitab biasanya melambangkan dosa dan pencemaran. Roti yang tidak beragi ini melambangkan pemisahan orang Israel yang ditebus dari Mesir, yaitu dari dunia dan dosa. Demikian pula, umat Allah dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari dunia yang penuh dosa dan menyerahkan diri kepada Allah saja. Amin!


Senin, 27 Maret 2017

A Righteous Man


“……Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”

(Noah was a righteous man, blameless among the people of his time, and he walked with God. (Genesis 6:9)



     Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang termulia diantara makhluk-makhluk yang lain. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan menurut “gambar dan “rupa”-Nya. Berdasarkan gambar ini, mereka dapat menanggapi dan bersekutu dengan Allah dan secara unik mencerminkan kasih, kemuliaan dan kekudusan-Nya. Manusia memiliki keserupaan moral dengan Allah, karena mereka tidak berdosa dan kudus, memiliki hikmat, hati yang mengasihi dan kehendak untuk melakukan yang benar. Mereka hidup dalam persekutuan pribadi dengan Allah yang meliputi ketaatan moral dan hubungan yang intim. Namun ketika manusia itu jatuh dalam dosa, kejahatannya besar, dan kecenderungan hati mereka selalu jahat, maka keserupaan moral dengan Allah itu tercemar dan sangat menyedihkan hati Tuhan dan bahkan Tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia (Kejadian 6:6).

     Pada zaman Nuh, ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, mereka saling mengawinkan antara “anak-anak Allah” dan “anak-anak  perempuan manusia.” “Anak-anak Allah”, kemungkinan besar adalah keturunan Set yang saleh. Mereka mulai menikah dengan “anak-anak perempun manusia” yaitu wanita tidak saleh dari keturunan Kain. (Teori bahwa “anak-anak Allah” itu adalah malaikat, kurang dapat diterima karena Yesus menyatakan bahwa malaikat tidak menikah, Matius 22:30, Mark 12:25). Persatuan orang saleh dengan yang tidak saleh ini menghasilkan “kejahatan”. Sebagai akibatnya, bumi ini tercemar dan dipenuhi dengan kekerasan dan kejahatan. Pada zaman Nuh kejahatan manusia begitu besar dan terang-terangan yaitu dengan perkawinan bebas. “Anak-anak Allah” melihat bahwa “anak-anak perempuan” itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu siapa saja yang mereka sukai (Kejadian 6:2). Hal ini sangat memilukan hati Tuhan sehingga Ia berfirman: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. (Kejadian 6:7).

Tetapi yang menarik, selanjutnya dikatakan: “ Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.” (Kejadian 6:8). Di tengah kefasikan dan kejahatan yang merajalela ketika itu, Allah menemukan dalam diri Nuh, seorang yang benar, tidak bercela dan berhubungan karib dengan-Nya. “Tidak bercela di antara orang-orang sezamannya” menunjukkan bahwa dia memisahkan diri dari kejahatan moral masyarakat disekitarnya. Oleh karena iman dan pergaulannya dengan Allah itu, maka ia mendapat kasih karunia dari Allah. Ia diselamatkan dari murka Allah. Allah berfirman, dan firman-Nya pasti digenapi.

Allah berfirman kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera, ………Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama –sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.” (Kejadian 6:13-19). Allah tidak main-main dengan apa yang dikatakan-Nya. Ia sungguh-sungguh membinasakan manusia dan melenyapkan bumi, tapi Nuh dan keluarganya diselamatkan.

     Seringkali cerita tentang Nuh ini dianggap suatu cerita yang biasa-biasa saja atau hanya cerita untuk anak Sekolah minggu saja di gereja, sehingga tidak begitu menarik perhatian kita. Tidak menyentuh hati. Sudah kuno. Yang menarik sekarang adalah cerita “Beauty and the Beast” atau cerita-cerita yang diluar Alkitab. Saudara, kalau ini yang terjadi, maka bersiap-siaplah, karena kita akan mengalami nasib yang sama dengan orang-orang pada zaman Nuh. Manusia yang tidak ada lagi ketertarikan dengan Tuhan kecenderungannya adalah tertarik dan mengikuti dunia dan kehidupan bebas didalamnya termasuk perilaku amoral, kefasikan, pornografi dan kekerasan. Tuhan akan membinasakan kita, walaupun tidak dibinasakan lagi dengan air bah seperti pada zaman Nuh tapi Tuhan akan menghukum dan membinasakan kita dengan cara yang berbeda. Kita akan dilemparkan ke dalam lautan api kekal selama-lamanya jika kita terus menerus berbuat jahat, mengikuti dunia dan tidak mengikuti Tuhan. Cerita tentang Nuh ini, sebenarnya memiliki arti yang dalam. Bahtera yang dipakai sebagai sarana untuk menyelamatkan keluarga Nuh  adalah melambangkan “Kristus.” Kita tidak lagi hidup di zaman Nuh, karena kehidupan di zaman Nuh dan semua yang ada sudah dibinasakan, tetapi cerita ini masih sangat berkaitan dengan kehidupan kita di zaman sekarang ini. Perilaku manusia di zaman Nuh ada di zaman kita saat ini. Tuhan akan menghukum.  Tapi karena Allah itu kasih dan Dia begitu mengasihi manusia, maka Ia menyediakan sarana untuk keselamatan manusia yaitu melalui Yesus Kristus. Dalam Yohanes 3:16 tertulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. “ Ayat ini mengungkapkan isi hati dan tujuan Allah. Kasih Allah sangat luas untuk menjangkau semua orang di dunia ini. Allah ingin kita mempercayai Tuhan dan mengikuti jalan dan perintah-Nya. Mengikuti perintah Tuhan artinya tidak lagi hidup mengikuti dan mengasihi dunia. Kita dituntut untuk hidup bergaul erat dengan Tuhan, mengasihi Tuhan, dan hidup tidak bercela. Nuh adalah teladan bagi kita untuk hidup berkenan kepada Tuhan ditengah kefasikan yang merajalela, tapi ia terbukti hidup tidak bercela dan hidup benar di mata Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk mengikuti Tuhan, bergaul akrab dengan-Nya, mengikuti perintah-perintah-Nya dan hidup berkenan di hadapan-Nya. Tidak mudah, tapi jika kita memohon pertolongan-Nya untuk memampukan kita, sedikit demi sedikit, kita pasti bisa. Tuhan Yesus Memberkati, Amin! 

  

Jumat, 09 Desember 2016

Taurat TUHAN Lebih Berharga dari Apapun



Mazmur 119:57-64

57 Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-Mu.

58 Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu.

59 Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu.

60 Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.

61 Tali-tali orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.

62 Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.

63 Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu.

64 Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.


     Bagi saudara-saudara yang bekerja, dimanapun dan dalam bidang apapun, biasanya ada saat dimana saudara diundang untuk bertemu dan menerima arahan dari atasan saudara mengenai hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan yang berhubungan dengan pekerjaan saudara. Pengarahan yang baik sangat penting karena kalau tidak ada arahan seperti ini karyawan akan bekerja tanpa arah dan petunjuk. Ini akan menimbulkan kekacauan dan tempat dimana saudara bekerja pun kemungkinan tidak akan mengalami kemajuan bahkan sebaliknya kemunduran, kecuali jika arahan yang disampaikan justru sebaliknya suatu arahan yang bertentangan dengan hukum dan mengarah ke hal-hal yang tidak baik, itu yang harus dijauhi!
Taurat TUHAN (bhs. Ibrani, Torah) adalah  merupakan SELURUH PENGARAHAN ALLAH kepada umat-Nya. Ada banyak sekali arahan-arahan Allah kepada kita umat-Nya yang tentunya ini sangat PENTING dalam kehidupan kita. Allah sangat mengasihi semua manusia sehingga dengan kebaikan-Nya dan kesabaran-Nya, Ia selalu memberikan nasehat-nasehat, pengarahan-pengarahan kepada umat-Nya dengan maksud supaya umat yang sangat Dia kasihi itu tidak tersesat di jalan yang membahayakan diri mereka. Tujuan Allah memberikan arahan-arahan itu bukan untuk kepentingan Allah, tapi untuk kepentingan umat manusia itu sendiri. Tapi, apakah manusia yang sangat dikasihi Allah itu menyadari betapa pentingnya pengarahan Allah itu, betapa pentingnya Taurat TUHAN itu? Hal yang sangat menyedihkan hati-Nya adalah di saat Ia melihat anak-anak-Nya, umat-Nya yang sangat Dia kasihi justru tidak menghiraukan Dia. Umat yang Dia kasihi pergi meninggalkan Dia. Umat yang sangat Dia kasihi tidak melakukan apa yang Dia inginkan. Umat yang sangat Dia kasihi acuh tak acuh dengan Dia. Umat yang sangat Dia kasihi menutup telinga terhadap arahan-arahan-Nya, Ia begitu sedih! TUHAN sedih……!
Ada hal indah dan menarik yang harus kita pelajari dalam ayat firman Tuhan yang tertulis di atas; pemazmur, seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Dengan tidak ragu-ragu dia katakan: “Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-Mu.” Dari kalimat ini kita bisa melihat, betapa dekatnya dia dengan Tuhan, dan komitmennya yang tinggi untuk berpegang pada firman Tuhan. Dilanjutkan dengan kalimat berikutnya:
 “Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati,
“Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu..”
“Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.”
Dia menyadari bahwa betapa ia sangat membutuhkan belas kasihan TUHAN, dan ia MEMOHON DENGAN SEGENAP HATI agar TUHAN berbelas kasihan terhadap dirinya. Pemazmur hidup bukan sekedar hidup, tapi ia sungguh-sungguh memikirkan kehidupannya. Apa yang harus dia lakukan, apa yang harus ia buat. Ia tidak hanya berpikir saja tanpa melakukan apa-apa, tapi berpikir dan diikuti dengan tindakan yang nyata dan tidak berlambat-lambat. Ia melangkahkan kakinya menuju peringatan-peringatan TUHAN dan berpegang pada perintah-perintah TUHAN dengan SEGERA dan TIDAK BERLAMBAT-LAMBAT.
Dalam kehidupan nyata, pemazmur tidak luput dari berbagai macam hal yang menyesakkan dia. Dia tahu persis bahwa disekitar dia ada orang-orang jahat yang ingin menjerat dia. Dia katakan: “Tali-tali orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.” Dalam kondisi dan keadaan yang tersesak, dia tidak melupakan TUHAN. Tengah malam ia bangun untuk bersyukur kepada TUHAN atas semua kebaikan TUHAN, atas hukum-hukum TUHAN yang adil. Ia bersekutu dengan orang yang takut akan TUHAN dan yang berpegang pada firman TUHAN. Ia tidak bersekutu dengan orang-orang yang membuatnya jauh dari TUHAN. Ungkapan kata yang selalu mengagungkan TUHAN, itu yang selalu ia ungkapkan. “Bumi penuh dengan kasih setia-Mu ya, TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.”
 Ia tahu persis bahwa TUHAN sangat mengasihi bumi ini. TUHAN sangat mengasihi dunia ini, TUHAN sangat mengasihi semua manusia yang hidup di bumi ini, tapi permintaannya adalah supaya TUHAN mengajarkan ketetapan-ketetapan-Nya kepadanya. Ia  sungguh-sungguh merindukan TUHAN. Ia sungguh-sungguh menginginkan TUHAN. TUHAN adalah yang terpenting dalam kehidupannya. Kehidupannya berpusat disekitar ALLAH dan Firman-Nya.
Firman TUHAN ini menjadi pelajaran yang berharga dalam kehidupan kita semua, bahwa walaupun ada banyak hal yang kita rindukan dan inginkan dalam dunia ini, tapi Taurat TUHAN lebih berharga dari apapun. Firman TUHAN pada bagian lain, dalam Matius 24:35 menuliskan: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Dunia ini akan hancur, dunia ini akan lenyap, tapi FIRMAN TUHAN/TAURAT TUHAN tidak akan lenyap.
Kesempatan yang TUHAN berikan ini biarlah menyadarkan kita  untuk terus mengambil komitmen untuk mencintai TAURAT TUHAN, mencintai FIRMAN TUHAN, karena hanya melalui kecintaan kita kepada FIRMAN/ TAURAT TUHAN kita akan mengetahui apa yang TUHAN inginkan untuk kita lakukan.  Firman TUHAN dalam Mazmur 95:6-11, menuliskan demikian:
“Masuklah marilah kita sujud menyembah, berlutut dihadapan TUHAN yang menjadikan kita.
Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.
Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
Empat puluh tahun aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku. Sebab itu aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”
 Firman TUHAN sangat penting dalam hidup kita. Mengabaikan FIRMAN TUHAN atau TAURAT TUHAN berarti menyia-nyiakan hidup. Hidup kita ini sangat berarti karena hidup ini adalah kesempatan yang sangat penting untuk mencari TUHAN sungguh-sungguh. Kesempatan untuk hidup di dunia ini akan berlalu, karena itu selagi masih ada kesempatan untuk hidup, marilah mencari TUHAN, mencintai FIRMAN atau TAURAT TUHAN. Jangankan mengeraskan hati. Lembutkan hati untuk menerima FIRMAN, TAURAT TUHAN yang menyelamatkan.
Jika kita ingin mengenal Allah dan kasih-Nya, kita harus tinggal dalam Firman-Nya, mencari wajah dan kasih karunia-Nya dengan segenap hati, bergegas untuk mentaati Firman-Nya, bergaul dengan orang yang takut akan Dia, mencari kasih-Nya dan berdoa supaya dapat mengenal dan melakukan kehendak-Nya.

KITA TIDAK BISA TINGGAL DI DALAM KRISTUS TANPA TINGGAL DI DALAM FIRMAN-NYA.

Rabu, 05 Oktober 2016

Signs of the End of the Age



Matius 24:3-8

3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?

4 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!

5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.

6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.

7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.

8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.



Nubuat Yesus ini adalah jawaban atas pertanyaan para murid-Nya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Tanda kesudahan dunia dalam ayat di atas adalah Yesus memberikan tanda-tanda yang akan menjadi ciri dari hari-hari terakhir; tanda-tanda itu akan makin hebat pada saat akhir zaman makin dekat.

1, Nabi palsu dan orang beragama yang berkompromi di dalam gereja yang kelihatan akan bertambah banyak dan menyesatkan banyak orang.

2. Makin meningkatnya peperangan, bencana kelaparan, dan gempa bumi akan merupakan permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

3. Apabila akhir zaman makin dekat, penganiayaan terhadap umat Allah akan makin hebat, sehingga banyak orang akan meninggalkan Kristus.

4. Kekerasan, kejahatan dan pengabaian hukum-hukum Allah meningkat dengan cepat, dan kasih yang wajar serta kasih sayang kepada keluarga akan berkurang.

5. Sekalipun kesulitan makin hebat, Injil tetap diberitakan di seluruh dunia.

6. Orang yang selamat adalah mereka yang teguh iman selama kesukaran akhir zaman.

7. Orang beriman yang setia, yang menyaksikan peningkatan tanda-tanda ini, akan mengetahui bahwa hari kedatangan Tuhan bagi mereka sudah mendekat.

     Kata-kata Yesus dalam percakapan di Bukit Zaitun ini ditunjukkan kepada murid-murid-Nya dan kepada umat Tuhan yang setia hingga kesudahan zaman dan kedatangan-Nya di dunia. Orang percaya yang hidup selama kesengsaraan besar, Kristus mengatakan bahwa mereka tidak dapat menghitung atau bahkan menduga saat kedatangan-Nya untuk menjemput jemaat-Nya. Oleh karena itu mereka harus siap sedia setiap waktu sebab Ia akan kembali untuk membawa mereka ke sorga pada waktu mereka tidak menduga akan dijemput.

Ayat 5, “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Tanda utama yang pertama  ini sangat penting. Menjelang akhir zaman, penipuan di bidang keagamaan  akan merajalela di muka bumi ini. Kristus sangat menginginkan para pengikut-Nya mengetahui penipuan rohani yang akan terjadi di seluruh dunia ini sesaat sebelum akhir zaman ini tiba.

     Menjelang kesudahan akhir zaman para nabi dan pengkhotbah palsu akan terdapat di mana-mana. Sebagian besar umat dan negara-negara Kristen akan murtad. Mereka yang sungguh-sungguh setia kepada kebenaran firman Allah dan kebenaran Alkitabiah merupakan minoritas.

     Mereka yang mengakui dirinya orang beriman akan menerima wahyu yang baru sekalipun itu bertentangan dengan firman Allah. Hal ini akan menimbulkan perlawanan terhadap kebenaran Alkitabiah dikalangan gereja-gereja. Mereka yang memberitakan Injil yang sesat mungkin sekali memperoleh kedudukan kepemimpinan strategis dalam organisasi gereja dan sekolah teologia, sehingga mereka berpeluang untuk menipu dan menyesatkan banyak orang di dalam gereja

     Di seluruh dunia berjuta-juta orang akan terlibat dalam ilmu gaib, ilmu nujum, sihir, spiritisme dan pemujaan Iblis. Pengaruh setan-setan dan roh-roh jahat akan semakin meningkat.

     Ciri khas akhir zaman ialah peningkatan yang luar biasa dari kemesuman, ketidaksenonohan, pemberontakan terhadap Allah dan penanggalan semua pengekangan moral. Perbuatan seksual yang tidak wajar, kedursilaan, perzinahan, pornografi, penggunaan obat-obat terlarang, music duniawi, dan hiburan yang memuaskan hawa nafsu akan merajalela. Pada waktu itu keadaan akan seperti pada zaman Nuh ketika kecenderungan hati manusia jahat semata-mata. Keadaan akan seperti di zaman Lot, ketika homoseksualitas, lesbianisme, dan bermacam-macam bentuk perbuatan seksual yang tidak wajar terdapat dalam masarakat. Yesus melanjutkan dengan menyatakan bahwa ketika itu kasih yang sejati akan sangat berkurang.

          Kesudahan zaman ini baru tiba setelah “Injil Kerajaan” diberitakan secukupnya di seluruh dunia. Yang dimaksud dengan “Injil Kerajaan” ini ialah Injil rasuli yang diberitakan dalam kuasa dan kebenaran Roh Kudus dan disertai tanda-tanda utama Injil itu. Hanya Allah yang mengetahui apabila tugas ini telah dilaksanakan sesuai dengan maksud-Nya. Tugas orang percaya ialah dengan setia dan terus menerus memberitakan Injil kepada “semua bangsa” hingga Tuhan kembali untuk membawa gereja-Nya ke sorga.

     Kristus berbicara kepada murid-Nya sekan-akan semua nubuat ini akan digenapi pada zaman mereka. Oleh karena itu, hal ini merupakan harapan gereja Perjanjian Baru. Hal yang sama ini hendaknya juga menjadi harapan dari semua orang yang percaya Yesus Kristus sepanjang zaman. Kita harus senantiasa mengharapkan kedatangan Tuhan kembali. Kita harus senantiasa hidup dalam suasana di antara dekatnya kedatangan Kristus dan kenyataan bahwa kita diperintahkan untuk tetap memberitakan Injil di seluruh dunia. Amin!