Kamis, 23 Mei 2013
Rabu, 01 Mei 2013
LADY BE GOOD
Pada tahun 1960, di tengah padang pasir Libia, serombongan penyelidik
minyak menemukan reruntuhan pesawat pembom dari Perang Dunia Kedua yaitu B-24
yang bernama Lady Be Good. 17 tahun sebelumnya pesawat itu berangkat
meninggalkan pangkalannya di dekat Benghazi,
Libia untuk melaksanakan tugas peperangan di Napoli,
Italia. Pada waktu kembali dari tugas , pesawat itu mengadakan hubungan radio
dengan pangkalan untuk menentukan arah pesawat. Namun sejak itu tidak ada
beritanya lagi. Orang mengira bahwa pesawat itu telah kehabisan bahan bakar dan
jatuh di di Laut Tengah. Rabu, 13 Maret 2013
TAKUT AKAN TUHAN
“Inilah perintah, yakni
ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Tuhan,
Allahmu, untuk dilakukan di negeri ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,
supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan, Allahmu, dan
berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan
supaya lanjut umurmu.” (Ulangan 6:1-2)
Perintah yang seringkali
diberikan kepada umat Allah dalam Perjanjian Lama adalah “takut akan Tuhan”
atau “ takut akan Allah”.
PENGERTIAN TAKUT AKAN TUHAN
1. Takut akan Tuhan
adalah kesadaran akan kekudusan, keadilan dan kebenaran-Nya, yaitu mengenal Dia
dan memahami sepenuhnya siapakah Dia. Takut semacam itu berlandaskan pengakuan
bahwa Allah adalah Allah yang kudus, yang tabiat-Nya itu membuat Dia menghukum
dosa.
2.
Takut akan Tuhan
berarti memandang Dia dengan kekaguman dan penghormatan kudus serta
menghormati-Nya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan, keagungan, dan
kuasa-Nya yang besar. Misalnya, ketika bangsa Israel di gunung Sinai melihat
Allah menyatakan diri melalui “guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung
dan bunyi sangkakala yang sangat keras” maka “gemetarlah” mereka dalam
ketakutan (Kel 19:16) sehingga memohon kepada Musa untuk berbicara kepada
mereka dan bukan Allah sendiri karena mereka berpikir jika Allah yang berbicara
kepada mereka secara langsung, mereka akan mati (Kel 20:18-19). Demikian juga
halnya pemazmur, ketika merenungkan Allah sebagai Pencipta, menyatakan dengan
tegas, “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia
gentar terhadap Dia! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi
perintah, maka semuanya ada” (Mzm 33:8-9).
3.Takut akan Tuhan
yang sejati menyebabkan orang percaya menaruh iman dan kepercayaan untuk
beroleh selamat hanya kepada-Nya. Misalnya, setelah bangsa Israel
menyeberang Laut Merah yang terbelah dua dan menyaksikan pembinasaan besar yang
diderita oleh bala tentara Mesir, maka “takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan
mereka percaya kepada TUHAN (Kel 14:31).
4.Takut akan Allah
juga meliputi kesadaran bahwa Dialah Allah yang marah terhadap dosa dan
berkuasa untuk menghukum mereka yang melanggar hukum-hukum-Nya yang adil, baik
dengan segera maupun dalam kekekalan (Mzm 76:8-9).
Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa di Taman Eden, mereka menjadi
takut dan berusaha untuk bersembunyi dari hadapan Allah (Kej 3:8-10). Musa juga
mengalami aspek takut akan Allah ini ketika menghabiskan empat puluh hari dan
malam berdoa bagi bangsa Israel
yang berdosa, “Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang
ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu” (Ul 9:19).
Demikian pula dalam Perjanjian Baru, segera setelah mengakui pembalasan dan hukuman Allah yang akan datang, penulis surat Ibrani menulis, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr 10:31).
Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa di Taman Eden, mereka menjadi
takut dan berusaha untuk bersembunyi dari hadapan Allah (Kej 3:8-10). Musa juga
mengalami aspek takut akan Allah ini ketika menghabiskan empat puluh hari dan
malam berdoa bagi bangsa Israel
yang berdosa, “Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang
ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu” (Ul 9:19). Demikian pula dalam Perjanjian Baru, segera setelah mengakui pembalasan dan hukuman Allah yang akan datang, penulis surat Ibrani menulis, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr 10:31).
Minggu, 06 Januari 2013
PUJIAN
"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi." (Mazmur 9:2-3)
Allah seringkali
menasehati umat-Nya untuk memuji Tuhan. Para penulis Perjanjian Lama
menggunakan tiga kata dasar untuk memanggil orang Israel untuk memuji Allah: barak (diterjemahkan “berkat”), halal (akar kata “haleluya”,artinya
“puji Tuhan”), dan yadah
(kadang-kadang diterjemahkan “berilah syukur”). Nyanyian pertama dalam Alkitab,
dinyanyikan setelah bangsa Israel
menyeberang Laut Merah, menjadi pujian dan ucapan syukur kepada Allah. Musa
memerintahkan orang Israel
untuk memuji Allah atas kebaikan-Nya memberikan mereka tanah perjanjian. Debora
secara khusus memanggil umat untuk memuji Tuhan. Kerinduan Daud untuk memuji
Allah tercatat baik di dalam sejarah hidupnya dan dalam mazmur-mazmur
gubahannya. Penggubah mazmur lainnya juga memanggil umat Allah untuk hidup
dengan memuji Allah dan para nabi dalam Perjanjian Lama juga mengarahkan umat
untuk memuji Allah. Panggilan untuk memuji Allah juga bergema di seluruh kitab
Perjanjian Baru. Yesus sendiri memuji Bapa-Nya di sorga. Paulus mengharapkan
semua bangsa memuji Allah, dan Yakobus memanggil kita untuk memuji Tuhan. Dan
akhirnya di dalam gambaran yang diberikan kitab Wahyu sejumlah besar orang
kudus dan malaikat senantiasa memuji Allah.Minggu, 18 November 2012
PEMELIHARAAN ALLAH
“Janganlah bersusah hati dan
janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk
memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kej. 45:5)
Setelah Tuhan Allah
menciptakan langit dan bumi (Kej.1:1), Ia tidak meninggalkan dunia berjalan
sendiri. Sebaliknya, Ia terus terlibat di dalam kehidupan
umat-Nya dan di dalam pemeliharaan ciptaan-Nya. Allah bukanlah seperti seorang
ahli pembuat jam yang membuat bumi, menjalankannya, dan kini membiarkannya
berjalan sendiri; Ia adalah Bapa penuh kasih yang senantiasa memelihara apa
yang telah diciptakan-Nya.
Ada tiga aspek pemeliharaan Allah:
1. Pelestarian.
Dengan
kuasa-Nya Allah melestarikan dunia yang telah diciptakan-Nya. Pengakuan Daud
jelas, “Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan
samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kau selamatkan (versi
NIV-peliharakan), ya TUHAN” (Mzm. 36:7). Kuasa Allah yang melestarikan
terlaksana melalui Putra-Nya Yesus Kristus, sebagaimana ditegaskan oleh Paulus
dalam Kol. 1:17, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu
ada di dalam Dia.” Oleh kuasa Kristus partikel hidup yang terkecil pun
dipersatukan.Jumat, 21 September 2012
Kamis, 20 September 2012
PENGILHAMAN DAN KEKUASAAN ALKITAB
2 Timotius 3:16-17
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi
untuk setiap perbuatan baik.”
Semua tulisan dalam Alkitab “diilhamkan Allah” , Yun.
theopneustos; yang terdiri dari dua kata : theos yang artinya “Allah” dan pneo
yang artinya “bernafas. Alkitab adalah hidup dan Sabda Allah, bahkan kata-kata
dalam naskah asli, memuat ketidaksalahan Alkitab, sepenuhnya benar, dapat
dipercayai dan tidak mungkin salah. Hal ini benar bukan hanya ketika Alkitab
membicarakan keselamatan, nilai-nilai etika dan moralitas, tetapi juga tanpa
salah tentang sesuatu yang dikatakannya, termasuk sejarah dan alam semesta. Para penulis dalam
Perjanjian Lama menyadari bahwa apa yang mereka katakan kepada umat dan
apa yang mereka tuliskan adalah Firman Allah yang disampaikan kepada mereka.,
sehingga berulang-ulang dituliskan, setiap perkataan mereka didahului dengan
kalimat “Beginilah Firman Tuhan.”
Langganan:
Postingan (Atom)

