Rabu, 30 Juli 2014

Sifat-sifat ALLAH yang Unik



“Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.” (Mazmur 139:7-8)
   Alkitab tidak berusaha membuktikan bahwa Allah itu ada. Sebaliknya Alkitab menganggap keberadaan-Nya sudah pasti dan menguraikan banyak sifat yang dimiliki Allah. Beberapa sifat ini adalah unik sedangkan sifat yang lain tampak dalam diri manusia sebagai akibat penciptaan-Nya menurut rupa Allah. Sifat-sifat Allah yang unik itu antara lain:
  1. Allah itu Mahahadir.
Allah ada di mana-mana pada saat yang bersamaan. Kitab Mazmur mengatakan bahwa ke manapun kita pergi, Allah ada di situ. Allah melihat segala sesuatu yang kita lakukan.
     2. Allah Mahatahu.
Allah mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui bukan saja perbuatan kita tetapi juga pikiran kita. 
  1. Allah itu Mahakuasa.
Allah itu sangat berkuasa dan memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu  dan semua ciptaan. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa Allah mempergunakan segala kuasa dan kekuasaan-Nya pada segala waktu; misalnya, Allah mempunyai kuasa untuk membinasakan semua dosa, tetapi Dia memilih untuk tidak melakukan hal itu hingga akhir sejarah. Dalam banyak hal, Allah membatasi kuasa-Nya, dan menyalurkannya melalui umat-Nya; dalam hal ini kuasa-Nya itu tergantung pada tingkat kesediaan dan penyerahan kita kepada Allah.
  1. Allah itu Mahatinggi.
Allah berbeda dan terlepas dari ciptaan-Nya. Diri dan keberadaan-Nya lebih besar dan lebih tinggi dari apa yang diciptakan-Nya. Ia tinggal dalam keberadaan yang sempurna dan murni, jauh di atas apa yang telah diciptakan-Nya. Dia sendiri tidak pernah diciptakan dan berada terpisah dari ciptaan. Akan tetapi, bukan berarti bahwa Allah tidak mampu tinggal di tengah-tengah umat-Nya sebagai Allah mereka.
  1. Allah itu kekal.
Allah ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Tidak pernah ada waktu, baik di masa lalu maupun di masa depan, Ia tidak terikat dengan waktu manusia.
  1. Allah tidak berubah.
Sifat-sifat Allah tidak berubah, dalam berbagai kesempurnaan atau dalam maksud-Nya bagi umat manusia. Hal ini tidak berarti bahwa Allah tidak pernah mengubah maksud-maksud-Nya yang sementara sebagai tanggapan atas tindakan manusia. Misalnya, Allah akan mengubah maksud-Nya untuk menghukum, karena pertobatan sungguh-sungguh dari orang berdosa. Alkitab sering berbicara tentang Allah yang mengubah pikiran-Nya sebagai akibat doa yang tekun dari umat-Nya.
  1. Allah itu sempurna dan kudus.
Allah sama sekali tanpa dosa dan benar sama sekali. Adam dan Hawa diciptakan tanpa dosa tetapi dengan kemampuan untuk berbuat dosa.
  1. Allah itu Tritunggal.
Dia adalah Allah yang Esa, yang telah menyatakan diri-Nya dalam tiga oknum ilahi yaitu: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Setiap oknum sepenuhnya ilahi, setara satu dengan yang lain, namun mereka bukan tiga Allah, tetapi satu.

SIFAT-SIFAT ALLAH YANG LAIN
   Banyak ciri khas dari Allah yang esa dan benar, khususnya sifat-sifat moral-Nya, memiliki kesamaan dengan sifat-sifat manusia; akan tetapi sifat-sifat Allah semua berada dalam taraf yang jauh lebih tinggi daripada di dalam diri manusia. Misalnya, sekalipun baik Allah maupun manusia memiliki kemampuan untuk mengasihi, tidak ada manusia yang mampu mengasihi sampai ke taraf dan intensitas kasih Allah. Selain itu, harus ditekankan bahwa kemampuan manusia untuk mengamalkan sifat ini terkait dengan penciptaan manusia menurut gambar Allah; dengan kata lain, kita seperti Allah, bukan Allah seperti kita.
1.      Allah itu baik.
Segala yang pada mulanya diciptakan Allah itu baik adanya, Allah tetap baik kepada ciptaan-Nya dengan menopangnya demi semua makhluk-Nya; Allah bahkan memelihara orang- orang fasik. Allah baik secara khusus kepada umat-Nya yang berseru kepada-Nya di dalam kebenaran.
2.      Allah itu kasih.
Kasih-Nya adalah kasih yang tidak mementingkan diri sehingga merangkul seluruh dunia dari umat manusia berdosa. Ungkapan utama kasih kasih tersebut adalah pengutusan Anak-Nya yang tunggal Yesus untuk mati   karena orang berdosa. Lagi pula, Allah memiliki kasih yang KHUSUS bagi mereka, yang melalui Yesus diperdamaikan kepada diri-Nya.
3.      Allah itu penyayang dan pengasih.
      Ia tidak memusnahkan umat manusia walaupun manusia patut dimusnahkan karena dosa, tetapi Ia menawarkan pengampunan
      sebagai karunia yang cuma-cuma untuk diterima, melalui iman kepada Yesus Kristus.
4.      Allah itu berbelaskasihan.
Berbelaskasihan berarti ikut merasa sedih karena penderitaan orang lain dan disertai keinginan untuk menolong.  Karena mengasihi umat manusia, Allah menyediakan pengampunan dan keselamatan.
5.      Allah itu sabar dan lamban marah.
    Allah pertama kali mengungkapkan sifat ini di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, ketika Ia tidak membinasakan mereka walaupun itu hak-Nya untuk melakukan hal tersebut. Sekarang ini, Ia tidak menghakimi untuk membinasakan dunia, karena dengan sabar Ia memberikan kesempatan pada setiap orang untuk berbalik dan bertobat.
6.      Allah adalah kebenaran.
Yesus menyebut diri-Nya sendiri “kebenaran” dan Roh Kudus dikenal sebagai “Roh
Kebenaran”. Karena Allah sepenuhnya dapat diandalkan dan benar di dalam segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan-Nya, firman-Nya juga dilukiskan sebagai kebenaran. Selaras dengan fakta ini, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah tidak membiarkan kebohongan atau dusta dalam bentuk apapun.
7.      Allah itu setia.
Allah akan melaksanakan apa yang telah dinyatakan-Nya dalam firman-Nya, melaksanakan semua janji dan peringatan-Nya. Kesetiaan Allah harus mendatangkan penghiburan yang besar tetapi juga sebaliknya rasa takut yang besar, karena Allah akan menghukum semua orang yang tidak bertobat dan tidak sungguh-sungguh mempercayai Tuhan Yesus.
8.      Allah itu adil.
Bersifat adil berarti bahwa Allah menopang tatanan moral semesta alam, dan dalam perlakuan-Nya terhadap umat manusia Ia bersikap benar dan tidak berdosa. Tekad Allah untuk menghukum orang berdosa dengan maut bersumber pada keadilan-Nya. Ia marah terhadap dosa karena Ia mengasihi kebenaran. Dia menyatakan murka-Nya terhadap segala bentuk kefasikan, khususnya penyembahan berhala, ketidakpercayaan, dan perlakuan tidak adil terhadap sesama manusia. Yesus Kristus, yang juga disebut “Orang Benar” juga mengasihi kebenaran dan membenci kajahatan. Allah memuaskan keadilan-Nya dengan mengutus Yesus ke dalam dunia sebagai karunia kasih-Nya dan sebagai korban demi manusia, supaya memperdamaikan manusia dengan diri-Nya.  
  
Penyataan Allah yang terakhir tentang diri-Nya ialah Yesus Kristus. Dengan kata lain, jikalau kita ingin sepenuhnya mengerti kepribadian Allah, kita harus memandang kepada Yesus Kristus, sebab dalam Dia berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kolose 2:9).

Kamis, 03 Juli 2014

Kosong vs Berisi


“Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, -Dialah Allah- yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, -dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami-; Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain” (Yesaya 45:18).

   Seorang anak kecil yang sangat senang bermain, sampai tidak mau makan, mengeluh kepada ibunya karena perutnya sakit. Ibunya tahu kalau anaknya tidak suka makan. Ia berkata kepada anaknya, “Nak, perut kamu itu kosong, makanya harus diisi, kamu harus makan supaya perut kamu ada isinya!” Anak kecil itu mengikuti perintah ibunya untuk makan, dan benar, habis makan ia tidak merasakan sakit perut lagi. Pengalaman ini sangat berkesan bagi anak kecil ini. Keesokan harinya pamannya mengeluh karena sakit kepala. Anak kecil ini melihat dan secara spontan berkata: “Paman! kepala paman sakit karena kosong, makanya harus diisi” (cukup menggelikan).

   Sesuatu yang kosong, pasti tidak diingini. Tuhan Allah menciptakan bumi bukan supaya kosong, tetapi untuk didiami oleh makhluk ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Ia merancang segala makhluk hidup dari hari pertama sampai hari keenam untuk memenuhi bumi, dan setiap kali Ia selesai menciptakan ciptaan-Nya, Ia selalu berkata, “It was very good”. Sungguh amat baik!

Sesuatu yang kosong, tidak ada nilainya.  Andaikan dalam suatu perjalanan, kita merasa haus dan ingin membeli minuman. Kita lihat botol minuman seperti aqua, cocacola, fanta, sprite, aneka minuman kaleng, jus dan sebagainya berada dalam kondisi yang kosong. Pasti ada yang salah. Aneh dan tidak masuk akal. Tidak mungkin hal ini terjadi kecuali kalau kita pergi mengunjungi pemulung.  Di sana kita akan melihat berbagai macam barang-barang yang kosong yang dibuang oleh pemiliknya karena tidak terpakai lagi. Seorang pedagang akan memesan barang yang akan dijualnya kepada pelanggan melalui distributor atau agen yang tentunya bukan barang sampah tapi barang yang bagus dan baru yang isinya penuh. Contoh lain, misalnya kita mendapat kado dari seseorang, dibungkus sangat rapi dan indah. Kita sangat senang dan gembira menerimanya dan ingin cepat-cepat membuka untuk melihat apa isi kado tersebut. Setelah dibuka ternyata isinya hanya sebuah kardus yang kosong. Bagaimana reaksi kita?

   Ilustrasi tentang anak kecil di atas ada benarnya. Sesuatu yang kosong akan membuat sakit. Kehidupan kerohanian kita, jika mengalami kekosongan akan membuat kita sakit. Jiwa kita akan sakit, tubuh kita juga akan sakit. Seorang yang mengalami kekosongan jiwa, Ernest Hemingway pernah berkata: ‘Hidup ini sebenarnya hanya sebuah tipuan kotor, suatu perjalanan singkat dari kekosongan menuju kekosongan. Tidak ada pemulihan untuk apapun di dalam kehidupan ini. Akhir dari manusia yang ada di alam semesta ini bagaikan sebuah koloni semut yang berada di sebuah balok kayu yang sedang terbakar.” Sangat disayangkan! Mungkin ia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang sedang mengalami kekosongan jiwa yang membutuhkan pertolongan untuk diisi jiwanya supaya tidak kosong. Timbul pertanyaan, bagaimana caranya? PERCAYA KEPADA TUHAN. Orang bisa saja berkata, saya tidak percaya ada Tuhan di alam semesta ini karena saya tidak dapat melihat Dia. Pandangan kita sangat terbatas, walaupun kita tidak dapat melihat angin, udara, gelombang listrik atau atom, tapi kita dapat merasakan dan percaya bahwa ada zat-zat tersebut, sama halnya dengan Tuhan. Sejak dahulu hingga saat ini, dimanapun manusia berada, terdapat juga agama dan hanya terdapat di dunia manusia; tidak terdapat di dunia binatang atau tumbuhan. Hal ini terjadi karena hanya manusia yang memiliki jiwa dan roh yang memampukannya berkomunikasi dengan dunia rohani. Melalui roh, manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Ibarat sebuah radio yang dapat menangkap gelombang elektromagnetik dari pemancar radio dan mengeluarkan suara yang merdu 
yang didengar oleh para pendengarnya.

Sabtu, 21 Juni 2014

Penderitaan dan Ketekunan




  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 

  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

  Tetapi apabila  di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit-, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

  Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.

  Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia menerima sesuatu dari Tuhan.

  Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yakobus 1:2-8)

   Yakobus menuliskan ini untuk membangun semangat orang percaya yang
sedang menderita berbagai pencobaan. Dalam bagian ini, kata “pencobaan”menunjuk kepada penganiayaan dan kesulitan yang terjadi, yang datang dari dunia atau Iblis (walaupun dalam pasal selanjutnya Yakobus mengatakan bahwa pencobaan itu berasal dari keinginan diri sendiri karena dipikat dan diseret olehnya). Dalam menghadapi pencobaan, Yakobus menekankan bahwa orang percaya harus bersukacita dan berbahagia. Tentu sulit untuk bersukacita dan berbahagia di tengah keadaan yang sulit, banyak orang tidak akan sanggup melakukan itu. Saya pun tidak.  Namun, kenapa orang Kristen diajar untuk bersukacita apalagi berbahagia di saat mengalami masa-masa yang sulit? Karena, pencobaan yang terjadi adalah pengujian terhadap iman kita. Iman kita hanya dapat mencapai kedewasaan penuh apabila diperhadapkan dengan kesulitan dan tantangan.  Pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya Allah dapat menguji kesungguhan iman mereka. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kesulitan di dalam hidup ini selalu menandakan bahwa Allah tidak senang dengan kita. Bahkan surat Ibrani 12:5-11 mengatakan: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita beroleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

   Didikan Tuhan atas orang-orang percaya dan kesukaran serta penderitaan yang diizinkan-Nya terjadi dalam kehidupan kita, semuanya itu merupakan tanda bahwa kita adalah anak-anak Allah. Semuanya itu merupakan jaminan bahwa Allah mengasihi dan memperhatikan kita. Penderitaan adalah hal yang menyakitkan dan sangat tidak menyenangkan. Namun, penderitaan datang untuk menjadikan kita lebih bijaksana, untuk menghapuskan kesombongan kita dan kehidupan yang semu. Tujuan penderitaan adalah untuk memperbaiki hal-hal yang rusak dalam kepribadian kita. Penderitaan pun bisa terjadi walaupun orang tidak melakukan dosa. Penderitaan menyebabkan rasa sakit pada jasmani dan rohani kita, tapi rasa sakit ini perlu karena dapat menyelamatkan kita dari kehancuran total. Tanpa penderitaan, manusia akan menuju kehancuran. Penderitaan atau rasa sakit, adalah KARUNIA. "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29). KARUNIA yang tidak seorangpun suka menerimanya. Philip Yancey, dalam bukunya yang berjudul, Where Is God When It Hurts, mengilustrasikan dalam tulisannya tentang seorang penderita kusta. Seorang penderita kusta, tanpa ragu akan mengambil sepotong ubi yang jatuh dalam bara api karena ia tidak merasakan panasnya api tersebut. Tangan dan jarinya akan terbakar dan akan melepuh, terkena infeksi, bernanah, membusuk, dan akhirnya lepas dari tubuhnya. Dalam proses ini, ia sama sekali tidak mengalami rasa sakit. Seorang penderita kusta lainnya mengalami kebutaan. Tiap pagi ia mencuci mukanya dan membersihkan matanya dengan air. Ia tidak sadar bahwa air yang digunakannya adalah air panas. Tetapi, ia tidak merasakan panasnya air itu. Oleh sebab itu, biji matanya terbakar. Semua proses ini terjadi karena ia tidak mengalami rasa sakit. Kedua kasus ini terjadi karena mereka kehilangan rasa sakit, kehilangan unsur rasa yang ada pada tubuh mereka. Akibat hilangnya perasaan ini, ia tidak dapat melindungi bagian tubuhnya yang terancam bahaya.  Penderitaan dalam bentuk rasa sakit dibutuhkan untuk melindungi tubuh. Rasa sakit dibutuhkan untuk menyelamatkan bagian tubuh kita. Rasa sakit dibutuhkan untuk mengadakan aksi perbaikan: menarik tangan dari api dan air panas supaya tidak terjadi hal yang lebih parah.

   Seorang penulis Kristen terkenal lainnya, C.S LEWIS, mengatakan bahwa penderitaan adalah “megafon Tuhan” kepada kita untuk menyadarkan kita. Seruan Tuhan ini bisa membuat kita membenci Dia dan menjauhkan diri dari Dia karena penderitaan yang Dia izinkan itu, tetapi sebaliknya, seruan Tuhan dapat menyadarkan kita dan membawa kita kembali kepada Dia.” Itulah sebabnya kita perlu mengalami penderitaan untuk menyelamatkan kehidupan rohani kita yang berdosa ini dari kemusnahan. Penderitaan dibutuhkan untuk menyadarkan kita dari dosa dan mengarahkan diri kita kepada jalan yang membawa kita kepada keselamatan.

  Seperti sudah dituliskan diatas bahwa ada dua kemungkinan akibat yang terjadi karena didikan Tuhan ini; Pertama; kita akan tetap bertahan dalam kesukaran karena pimpinan Allah dan tunduk kepada Allah dan tetap setia kepada-Nya seperti Daniel yang dibuang ke gua singa dan tetap percaya kepada Tuhan; dan kemungkinan kedua; mungkin kita akan memandang ringan didikan Tuhan ini, memberontak kepada Tuhan karena penderitaan dan kesukaran, dan oleh karena kesukaran dan penderitaan ini, kita kecewa, kita bisa berkata bahwa Tuhan jahat, kita bisa meninggalkan Tuhan bahkan murtad dari Allah. Hal ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Tapi biarlah di dalam segala bentuk kesengsaraan, kita harus lebih sungguh-sungguh mencari Allah lewat doa, puji-pujian, dan firman-Nya yang menguatkan kita. Kita juga harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kekudusan-Nya, karena Tuhan berfirman: “Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Menjadi kudus berarti terpisah dari dosa dan dikhususkan bagi Allah, hidup dekat dengan Allah, mencari kehadiran-Nya, kebenaran dan persekutuan-Nya dengan sepenuh hati. Kekudusan merupakan prioritas utama Allah bagi para pengikut-Nya. Kekudusan merupakan maksud Allah bagi umat-Nya ketika Ia datang ke bumi ini. Kekudusan merupakan maksud Allah bagi umat-Nya ketika Kristus harus menyerahkan diri-Nya disalib untuk kita. Kekudusan merupakan maksud Allah ketika menjadikan kita ciptaan baru dan memberikan Roh Kudus kepada kita. Tanpa kekudusan tak seorang pun dapat berguna bagi Allah. Tanpa kekudusan tak mungkin kita dekat atau bersekutu dengan Allah. Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Allah.

      Ya, mungkin saat ini kita diperhadapkan dengan pencobaan yang sangat
berat, kesedihan,kesehatan bermasalah, kondisi keuangan tipis dan tidak punya pekerjaan, atau bekerja tapi gaji yang sangat minim dan tidak mencukupi kebutuhan keluarga, di caci maki, difitnah, dibenci, ditekan tanpa kita tahu kesalahan kita, diperlakukan tidak adil oleh orang lain, ditipu dan sebagainya…Ingat! Tuhan ada bersama kita! Dia tidak meninggalkan dan membiarkan kita menanggung penderitaan itu seorang diri.. Dia sangat mengasihi kita.  Dia hanya INGIN, lewat kesulitan dan penderitaan, kita mau datang dan sungguh-sungguh mencari Dia. Dia tidak menginginkan kita tersesat dan akhirnya binasa. Oleh karenanya, saat ini jika ada yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup, jangan berhenti mempercayai Tuhan, jangan meninggalkan Tuhan apalagi murtad! Tetap bertekun dalam iman percaya kita kepada-Nya. Disaat kita terus mempercayai-Nya, Dia akan memberikan kita kekuatan untuk menanggung segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi dalam hidup kita.  Amin!!!   


Sabtu, 31 Mei 2014

Pentingnya Kebangkitan

Kebangkitan YESUS adalah salah satu kebenaran utama dalam injil. Mengapa kebangkitan YESUS penting bagi kita yang percaya kepada-Nya? Ada beberapa alasan yang dapat saya tuliskan di bawah ini:

  1. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah dan Tuhan. Roma 1:4: “…dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”
  2. Kebangkitan Yesus menjamin bahwa betapa mujarab dan manjurnya “kematian-Nya yang menebus dosa manusia.” Sebagaimana Kristus telah bangkit dari antara orang mati, demikian juga orang yang percaya kepada-Nya akan hidup dalam hidup yang baru. 
  3. Kebangkitan Yesus membuktikan kebenaran Alkitab. Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
  4. Kebangkitan Yesus memastikan bahwa akan ada penghakiman bagi orang fasik di masa depan.
  5. Kebangkitan Yesus menjadi dasar karunia Roh Kudus dan hidup kekal.
  6. Kebangkitan Yesus memastikan bahwa orang percaya kelak akan berada dengan Dia di sorga dan membangkitkan serta mengangkat orang percaya dalam kedatangan-Nya yang Kedua Kali di dunia.



Kebangkitan Yesus merupakan suatu peristiwa yang  terbukti secara histories. Setelah Yesus bangkit, Ia tetap tinggal di bumi selama 40 hari, menampakkan Diri dan berbicara  kepada murid-murid-Nya dan pengikut-pengikut-Nya. Ia juga memberikan perintah kepada murid-murid-Nya, untuk menjadikan orang-orang dari semua bangsa menjadi murid-Nya. Dalam Alkitab terjemahan NIV dikatakan: “ Therefore go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit… ” (Matthew 28:19). Saya menafsirkan, jadikan murid-murid Yesus dari setiap bangsa/ jadikan orang-orang dari setiap bangsa murid-Nya. Mungkin agak berbeda dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia yang menerjemahkan: “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…  ”(Mohon maaf kepada LAI atau pihak terkait, apakah saya yang salah mengartikan ayat ini, saya berharap ada orang yang lebih tahu dapat menjelaskan kepada saya). Kata-kata ini merupakan Amanat Agung Yesus Kristus kepada kesebelas murid-murid-Nya di sebuah bukit di Galilea tempat yang disebut Yesus bahwa mereka akan bertemu di situ. Amanat ini menyatakan sasaran, tanggungjawab dan tugas yang harus  dilaksanakan oleh para murid. Tugas yang berat, tapi Yesus berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Tugas yang berat tapi indah dan mulia. Tugas yang Yesus perintahkan sebelum Ia terangkat ke Sorga. Tugas ini berlaku bukan hanya kepada kesebelas murid Yesus yang pada waktu itu bersama-sama dengan Dia, tetapi kepada kita semua yang percaya kepada-Nya, termasuk kewajiban gereja untuk mengutus utusan gerejani ke setiap bangsa.  Perlu diingat bahwa perintah ini bukan menjadikan orang menjadi orang Kristen, Pengkristenan atau Kristenisasi, tetapi menjadikan orang menjadi murid Yesus. Artinya menyampaikan, mengajar, mendidik dan membuat semua orang yang percaya kepada Yesus bukan sekedar bertobat, tetapi memisahkan diri dari kehidupan dunia yang bertentangan dengan perintah –perintah-Nya dan sungguh-sungguh mentaati perintah-perintah-Nya dengan segenap hati, pikiran dan kehendaknya. Ini juga berlaku kepada mereka yang sebelumnya bukan orang yang percaya kepada Kristus tetapi mereka mendengar kesaksian tentang Yesus, kemudian dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan, mengambil keputusan  untuk percaya kepada Yesus.

Tugas ini (Amanat Agung) harus dilakukan oleh semua orang percaya  dengan tujuan menyaksikan, menyampaikan, memberitakan, menceritakan tentang Yesus kepada semua orang. Yesus adalah Penyelamat manusia karena manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan “barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16 b). Dalam kalimat ini kembali lagi saya katakan bahwa “FREE WILL atau KEHENDAK BEBAS” berperan penting.  Orang yang percaya kepada Yesus, adalah hasil dari pilihannya untuk menggunakan kehendak bebasnya atau free willnya untuk percaya kepada Yesus, sebaliknya orang yang tidak percaya kepada Yesus, iapun menggunakan kehendak bebasnya atau free willnya untuk tidak percaya kepada Yesus. Jadi, jika ada orang yang memilih percaya kepada Yesus setelah ia mendengar kabar atau cerita tentang Yesus, itu bukan dijadikan Kristen atau Kristenisasi, tapi karena PILIHAN-nya ia memilih untuk percaya.


Rabu, 09 April 2014

Pekerjaan Anda Penting Bagi ALLAH



“Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah”, buku ini saya rekomendasikan kepada saudara-saudara untuk di baca karena buku ini cukup bagus untuk menambah wawasan dan meneguhkan panggilan saudara dalam pekerjaan. Buku ini membuka pikiran saya dan mengubah cara pandang saya tentang pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan baik yang dicari dan sedang dikerjakan banyak orang. Bukan pekerjaan sebagai pencuri, perampok, pengemis, penipu, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak berkenan kepada Tuhan. 
Terdorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak dari seorang penulis Kristen (Seward Hiltner) tahun 1974 yang menuliskan bahwa kekristenan sangat membutuhkan teologi tentang pekerjaan, namun menurutnya menyusun teologi  merupakan suatu proses yang sama seperti membangun katedral atau gedung gereja yang besar di Eropa, tidak dapat terbentuk hanya dalam waktu beberapa bulan, melainkan dapat memakan waktu yang cukup lama. Dilatarbelakangi dengan hal yang sama dan kebutuhan yang sangat mendesak ini, maka Dough Sherman & William Hendricks menuliskan buku: “ Your Work Matters to God” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gerrit J. Tiendas.

Menurut pengamatan penulis, setiap hari jutaan pekerja masuk kerja tanpa melihat adanya hubungan antara apa yang mereka kerjakan dan apa yang dikehendaki Allah agar terlaksana di dalam dunia ini. Sebagai contoh seorang penjual asuransi, penjual asuransi ini mungkin tidak mempunyai bayangan apakah Allah menginginkan adanya penjualan asuransi atau tidak. Apakah hal menjual asuransi itu penting bagi Allah atau tidak?

 Berikut adalah kisah penulis yang saya kutip: “Ketika ia masih seorang penerbang pesawat tempur  di Pangkalan Udara Webb di Big Spring, Texas, tempatnya menghabiskan waktu adalah di kamar penerbangan. Tempat ini adalah tempat para instruktur penerbangan bertemu sebelum dan sesudah melakukan misi penerbangan. Mereka merupakan suatu kelompok pergaulan yang menyenangkan! Seperti sebuah film ‘Top Gun’ begitulah dunia mereka. Kelompok itu merupakan masyarakat penerbangan supersonic dan kegenda manusia supersonic, legenda manusia super berteknologi tinggi serta bertegangan tinggi. Di udara, mereka mendorong para siswa, diri mereka sendiri, dan pesawat-pesawat mereka untuk terus berpacu sampai batas-batas kemampuannya.


Rabu, 19 Februari 2014

MERINDUKAN TUHAN



“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mazmur 42:2,3)  


   Sama halnya dengan manusia, hewan juga membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Rusa (deer) adalah hewan mamalia pemamah biak yang termasuk familia cervidae. Salah satu ciri khas rusa adalah adanya antler (tanduk rusa), yang merupakan pertumbuhan tulang yang berkembang setiap tahun (biasanya pada musim panas) terutama pada rusa jantan (walaupun ada beberapa pengecualian). Rusa umumnya luwes, memiliki kaki yang kuat dan cocok untuk hidup di medan hutan yang kasar. Rusa juga adalah peloncat (jumper) yang sangat baik, juga perenang (swimmer). Rusa membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan minum. Rusa memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relative tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai. Rusa memakan daun-daunan (vegetable materials) dan berbagai macam buah-buahan yang dapat di makan. Rusa juga makan rumput di padang gurun (grazing), makan daun-daunan semak di hutan dan makan jamur yang tumbuh di bawah pohon. Rusa makan dari bagian tumbuhan mulai dari pucuk kemudian daun muda dan tua, dan batang yang muda. Rusa yang hidup di alam akan mendapatkan air dan sumber air di permukaan, seperti air sungai, danau, waduk, parit, atau mata air.

   “Bani Korah” adalah keluarga suku Lewi yang pandai menyanyi. “Maskil” (nyanyian pengajaran), menggambarkan kerinduan mereka kepada Allah yang begitu dalam. Kerinduannya kepada Allah yang begitu dalam itu dalam ayat ini digambarkan seperti seekor rusa yang merindukan air. Seekor rusa yang haus akan pergi ke sungai atau sumber air, berlari dan meloncati semak belukar sampai nafasnya terengah-engah untuk dapat sampai ke sungai atau mata air. Dalam Alkitab terjemahan NIV (New International Version) dituliskan: “ As the deer pants for stream of water, so my soul pants for You, O God.”  (Psalm 42:1). Dalam Alkitab Indonesia ayat 2.

    Ayat 2, NIV menuliskan; “ My soul thirsts for God, for the living God. When can I go and meet with God? (Alkitab Indonesia ayat 3). Apa yang membuat sang pemazmur begitu merindukan dan haus akan Tuhan? Kenapa juga dia harus bertanya kapan aku boleh datang dan bertemu dengan Tuhan?  Ternyata sang pemazmur mengalami pergumulan yang amat berat. Air matanya menjadi makanannya siang dan malam, dan seperti tikaman maut dalam tulang-tulangnya orang-orang disekelilingnya mencela dia, “ Di mana Allahmu”? (Where is your God)? Dia mempercayai Allah tapi sepertinya pertolongan dari Allah tidak kunjung tiba. Allah seolah-olah diam membisu dan membiarkannya dalam kesusahan. Dalam keadaan yang sulit seperti itu, ia bertanya lagi pada dirinya sendiri: “ Why are you downcast, O my soul? (Mengapa engkau susahsedihputus asa, hai jiwaku)? Why so disturbed within me? (Mengapa aku sangat terganggu/gelisah)? Ia bertanya kepada dirinya sendiri, tapi ia juga menjawab pertanyaannya sendiri. Ia katakan: “Put your hope in God, for I will yet praise Him, my Savior and my God.” (Berharaplah kepada Allah, aku akan memuji Dia, Juruselamat dan Allahku).