Sabtu, 11 Maret 2017
Kamis, 05 Januari 2017
Jumat, 09 Desember 2016
Taurat TUHAN Lebih Berharga dari Apapun
Mazmur 119:57-64
57 Bagianku ialah TUHAN, aku
telah berjanji untuk berpegang pada firman-Mu.
58 Aku memohon belas
kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu.
59 Aku memikirkan jalan-jalan
hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu.
60 Aku bersegera dan tidak
berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.
61 Tali-tali orang fasik
membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.
62 Tengah malam aku bangun untuk
bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.
63 Aku bersekutu dengan semua
orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada
titah-titah-Mu.
64 Bumi penuh dengan kasih
setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
Bagi saudara-saudara yang bekerja, dimanapun dan dalam bidang
apapun, biasanya ada saat dimana saudara diundang untuk bertemu dan menerima
arahan dari atasan saudara mengenai hal yang harus dilakukan dan tidak
dilakukan yang berhubungan dengan pekerjaan saudara. Pengarahan yang baik
sangat penting karena kalau tidak ada arahan seperti ini karyawan akan bekerja
tanpa arah dan petunjuk. Ini akan menimbulkan kekacauan dan tempat dimana
saudara bekerja pun kemungkinan tidak akan mengalami kemajuan bahkan sebaliknya
kemunduran, kecuali jika arahan yang disampaikan justru sebaliknya suatu arahan
yang bertentangan dengan hukum dan mengarah ke hal-hal yang tidak baik, itu
yang harus dijauhi!
Taurat
TUHAN (bhs. Ibrani, Torah) adalah
merupakan SELURUH PENGARAHAN ALLAH kepada umat-Nya. Ada banyak sekali
arahan-arahan Allah kepada kita umat-Nya yang tentunya ini sangat PENTING dalam
kehidupan kita. Allah sangat mengasihi semua manusia sehingga dengan
kebaikan-Nya dan kesabaran-Nya, Ia selalu memberikan nasehat-nasehat,
pengarahan-pengarahan kepada umat-Nya dengan maksud supaya umat yang sangat Dia
kasihi itu tidak tersesat di jalan yang membahayakan diri mereka. Tujuan Allah
memberikan arahan-arahan itu bukan untuk kepentingan Allah, tapi untuk
kepentingan umat manusia itu sendiri. Tapi, apakah manusia yang sangat dikasihi
Allah itu menyadari betapa pentingnya pengarahan Allah itu, betapa pentingnya
Taurat TUHAN itu? Hal yang sangat menyedihkan hati-Nya adalah di saat Ia
melihat anak-anak-Nya, umat-Nya yang sangat Dia kasihi justru tidak
menghiraukan Dia. Umat yang Dia kasihi pergi meninggalkan Dia. Umat yang sangat
Dia kasihi tidak melakukan apa yang Dia inginkan. Umat yang sangat Dia kasihi
acuh tak acuh dengan Dia. Umat yang sangat Dia kasihi menutup telinga terhadap
arahan-arahan-Nya, Ia begitu sedih! TUHAN sedih……!
Ada
hal indah dan menarik yang harus kita pelajari dalam ayat firman Tuhan yang
tertulis di atas; pemazmur, seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Dengan
tidak ragu-ragu dia katakan: “Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk
berpegang pada firman-Mu.” Dari kalimat ini kita bisa melihat, betapa dekatnya
dia dengan Tuhan, dan komitmennya yang tinggi untuk berpegang pada firman
Tuhan. Dilanjutkan dengan kalimat berikutnya:
“Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap
hati,
“Aku
memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju
peringatan-peringatan-Mu..”
“Aku
bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada
perintah-perintah-Mu.”
Dia
menyadari bahwa betapa ia sangat membutuhkan belas kasihan TUHAN, dan ia
MEMOHON DENGAN SEGENAP HATI agar TUHAN berbelas kasihan terhadap dirinya.
Pemazmur hidup bukan sekedar hidup, tapi ia sungguh-sungguh memikirkan
kehidupannya. Apa yang harus dia lakukan, apa yang harus ia buat. Ia tidak
hanya berpikir saja tanpa melakukan apa-apa, tapi berpikir dan diikuti dengan
tindakan yang nyata dan tidak berlambat-lambat. Ia melangkahkan kakinya menuju
peringatan-peringatan TUHAN dan berpegang pada perintah-perintah TUHAN dengan
SEGERA dan TIDAK BERLAMBAT-LAMBAT.
Dalam
kehidupan nyata, pemazmur tidak luput dari berbagai macam hal yang menyesakkan
dia. Dia tahu persis bahwa disekitar dia ada orang-orang jahat yang ingin
menjerat dia. Dia katakan: “Tali-tali orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu
tidak kulupakan.” Dalam kondisi dan keadaan yang tersesak, dia tidak melupakan
TUHAN. Tengah malam ia bangun untuk bersyukur kepada TUHAN atas semua kebaikan
TUHAN, atas hukum-hukum TUHAN yang adil. Ia bersekutu dengan orang yang takut
akan TUHAN dan yang berpegang pada firman TUHAN. Ia tidak bersekutu dengan
orang-orang yang membuatnya jauh dari TUHAN. Ungkapan kata yang selalu
mengagungkan TUHAN, itu yang selalu ia ungkapkan. “Bumi penuh dengan kasih
setia-Mu ya, TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.”
Ia tahu persis bahwa TUHAN sangat mengasihi
bumi ini. TUHAN sangat mengasihi dunia ini, TUHAN sangat mengasihi semua
manusia yang hidup di bumi ini, tapi permintaannya adalah supaya TUHAN
mengajarkan ketetapan-ketetapan-Nya kepadanya. Ia sungguh-sungguh merindukan TUHAN. Ia
sungguh-sungguh menginginkan TUHAN. TUHAN adalah yang terpenting dalam
kehidupannya. Kehidupannya berpusat disekitar ALLAH dan Firman-Nya.
Firman
TUHAN ini menjadi pelajaran yang berharga dalam kehidupan kita semua, bahwa
walaupun ada banyak hal yang kita rindukan dan inginkan dalam dunia ini, tapi
Taurat TUHAN lebih berharga dari apapun. Firman TUHAN pada bagian lain, dalam
Matius 24:35 menuliskan: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku
tidak akan berlalu.” Dunia ini akan hancur, dunia ini akan lenyap, tapi FIRMAN
TUHAN/TAURAT TUHAN tidak akan lenyap.
Kesempatan
yang TUHAN berikan ini biarlah menyadarkan kita
untuk terus mengambil komitmen untuk mencintai TAURAT TUHAN, mencintai
FIRMAN TUHAN, karena hanya melalui kecintaan kita kepada FIRMAN/ TAURAT TUHAN
kita akan mengetahui apa yang TUHAN inginkan untuk kita lakukan. Firman TUHAN dalam Mazmur 95:6-11, menuliskan
demikian:
“Masuklah
marilah kita sujud menyembah, berlutut dihadapan TUHAN yang menjadikan kita.
Sebab
Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan
tangan-Nya.
Pada
hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti
di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu
mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
Empat
puluh tahun aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa
yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku. Sebab itu aku
bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”
Firman TUHAN sangat penting dalam hidup kita.
Mengabaikan FIRMAN TUHAN atau TAURAT TUHAN berarti menyia-nyiakan hidup. Hidup
kita ini sangat berarti karena hidup ini adalah kesempatan yang sangat penting
untuk mencari TUHAN sungguh-sungguh. Kesempatan untuk hidup di dunia ini akan berlalu, karena itu selagi masih ada kesempatan untuk hidup,
marilah mencari TUHAN, mencintai FIRMAN atau TAURAT TUHAN. Jangankan
mengeraskan hati. Lembutkan hati untuk menerima FIRMAN, TAURAT TUHAN yang
menyelamatkan.
Jika
kita ingin mengenal Allah dan kasih-Nya, kita harus tinggal dalam Firman-Nya,
mencari wajah dan kasih karunia-Nya dengan segenap hati, bergegas untuk
mentaati Firman-Nya,
bergaul dengan orang yang takut akan Dia, mencari kasih-Nya dan berdoa supaya dapat mengenal dan melakukan kehendak-Nya.
KITA TIDAK BISA TINGGAL DI DALAM KRISTUS TANPA TINGGAL DI DALAM
FIRMAN-NYA.
Rabu, 05 Oktober 2016
Signs of the End of the Age
Matius 24:3-8
3 Ketika Yesus duduk di atas
Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap
sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu
akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?
4 Jawab Yesus kepada mereka:
“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
5 Sebab banyak orang akan
datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan
menyesatkan banyak orang.
6 Kamu akan mendengar deru
perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu
gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.
7 Sebab bangsa akan bangkit
melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa
bumi di berbagai tempat.
8 Akan tetapi semuanya itu
barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
Nubuat Yesus ini adalah
jawaban atas pertanyaan para murid-Nya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda
kesudahan dunia?” Tanda kesudahan dunia dalam ayat di atas adalah Yesus
memberikan tanda-tanda yang akan menjadi ciri dari hari-hari terakhir;
tanda-tanda itu akan makin hebat pada saat akhir zaman makin dekat.
1, Nabi palsu dan orang
beragama yang berkompromi di dalam gereja yang kelihatan akan bertambah banyak
dan menyesatkan banyak orang.
2. Makin meningkatnya
peperangan, bencana kelaparan, dan gempa bumi akan merupakan permulaan
penderitaan menjelang zaman baru.
3. Apabila akhir zaman makin
dekat, penganiayaan terhadap umat Allah akan makin hebat, sehingga banyak orang
akan meninggalkan Kristus.
4. Kekerasan, kejahatan dan
pengabaian hukum-hukum Allah meningkat dengan cepat, dan kasih yang wajar serta
kasih sayang kepada keluarga akan berkurang.
5. Sekalipun kesulitan makin hebat,
Injil tetap diberitakan di seluruh dunia.
6. Orang yang selamat adalah
mereka yang teguh iman selama kesukaran akhir zaman.
7. Orang beriman yang setia,
yang menyaksikan peningkatan tanda-tanda ini, akan mengetahui bahwa hari
kedatangan Tuhan bagi mereka sudah mendekat.
Kata-kata Yesus dalam percakapan di Bukit Zaitun ini ditunjukkan
kepada murid-murid-Nya dan kepada umat Tuhan yang setia hingga kesudahan zaman
dan kedatangan-Nya di dunia. Orang percaya yang hidup selama kesengsaraan besar,
Kristus mengatakan bahwa mereka tidak dapat menghitung atau bahkan menduga saat
kedatangan-Nya untuk menjemput jemaat-Nya. Oleh karena itu mereka harus siap
sedia setiap waktu sebab Ia akan kembali untuk membawa mereka ke sorga pada
waktu mereka tidak menduga akan dijemput.
Ayat 5, “Sebab banyak orang
akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan
menyesatkan banyak orang.” Tanda utama yang pertama ini sangat penting. Menjelang akhir zaman,
penipuan di bidang keagamaan akan
merajalela di muka bumi ini. Kristus sangat menginginkan para pengikut-Nya
mengetahui penipuan rohani yang akan terjadi di seluruh dunia ini sesaat
sebelum akhir zaman ini tiba.
Menjelang kesudahan akhir zaman para nabi dan pengkhotbah palsu
akan terdapat di mana-mana. Sebagian besar umat dan negara-negara Kristen akan
murtad. Mereka yang sungguh-sungguh setia kepada kebenaran firman Allah dan
kebenaran Alkitabiah merupakan minoritas.
Mereka yang mengakui dirinya orang beriman akan menerima wahyu
yang baru sekalipun itu bertentangan dengan firman Allah. Hal ini akan
menimbulkan perlawanan terhadap kebenaran Alkitabiah dikalangan gereja-gereja.
Mereka yang memberitakan Injil yang sesat mungkin sekali memperoleh kedudukan
kepemimpinan strategis dalam organisasi gereja dan sekolah teologia, sehingga
mereka berpeluang untuk menipu dan menyesatkan banyak orang di dalam gereja
Di seluruh dunia berjuta-juta orang akan terlibat dalam ilmu
gaib, ilmu nujum, sihir, spiritisme dan pemujaan Iblis. Pengaruh setan-setan
dan roh-roh jahat akan semakin meningkat.
Ciri khas akhir zaman ialah peningkatan yang luar biasa dari
kemesuman, ketidaksenonohan, pemberontakan terhadap Allah dan penanggalan semua
pengekangan moral. Perbuatan seksual yang tidak wajar, kedursilaan, perzinahan,
pornografi, penggunaan obat-obat terlarang, music duniawi, dan hiburan yang
memuaskan hawa nafsu akan merajalela. Pada waktu itu keadaan akan seperti pada
zaman Nuh ketika kecenderungan hati manusia jahat semata-mata. Keadaan akan
seperti di zaman Lot, ketika homoseksualitas, lesbianisme, dan bermacam-macam
bentuk perbuatan seksual yang tidak wajar terdapat dalam masarakat. Yesus
melanjutkan dengan menyatakan bahwa ketika itu kasih yang sejati akan sangat
berkurang.
Kesudahan zaman ini baru tiba setelah “Injil Kerajaan”
diberitakan secukupnya di seluruh dunia. Yang dimaksud dengan “Injil Kerajaan”
ini ialah Injil rasuli yang diberitakan dalam kuasa dan kebenaran Roh Kudus dan
disertai tanda-tanda utama Injil itu. Hanya Allah yang mengetahui apabila tugas
ini telah dilaksanakan sesuai dengan maksud-Nya. Tugas orang percaya ialah
dengan setia dan terus menerus memberitakan Injil kepada “semua bangsa” hingga
Tuhan kembali untuk membawa gereja-Nya ke sorga.
Kristus berbicara kepada murid-Nya sekan-akan semua nubuat ini
akan digenapi pada zaman mereka. Oleh karena itu, hal ini merupakan harapan
gereja Perjanjian Baru. Hal yang sama ini hendaknya juga menjadi harapan dari
semua orang yang percaya Yesus Kristus sepanjang zaman. Kita harus senantiasa
mengharapkan kedatangan Tuhan kembali. Kita harus senantiasa hidup dalam
suasana di antara dekatnya kedatangan Kristus dan kenyataan bahwa kita
diperintahkan untuk tetap memberitakan Injil di seluruh dunia. Amin!
Minggu, 07 Agustus 2016
Kamis, 04 Agustus 2016
Mencapai Garis Akhir
1Di hadapan Allah dan Kristus
Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan
sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2Beritakanlah firman, siap
sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
3Karena akan datang waktunya,
orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan
guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4Mereka akan memalingkan
telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
5Tetapi kuasailah dirimu dalam
segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan
tunaikanlah tugas pelayananmu!
6Mengenai diriku, darahku
sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
7Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman.
8Sekarang telah tersedia
bagiku mahkota kebenaraan yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim
yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada
semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. ( 2 Timotius 4:1-8)
Ayat ini ditulis oleh Paulus kepada Timotius karena menyadari
akan kemungkinan penganiayaan berat dari luar gereja dan adanya guru-guru palsu
di dalam gereja. Paulus menasihatkan Timotius agar dia memelihara Injil,
memberitakan Firman Allah, menanggung kesukaran dan melaksanakan
tugas-tugasnya. Dalam ayat ini tertulis juga perkataan Paulus yang ia tuliskan
sebelum pelaksanaan hukuman mati oleh kaisar Nero di Roma hampir 35 tahun
setelah pertobatannya kepada Kristus di jalan Damsyik (ay. 6). Sebagai bapak
rohani, ia sungguh mengasihi Timotius karena ia tahu Timotius adalah orang yang
baik, tulus dan setia dan dapat dipercaya untuk terus melanjutkan tugas
pelayanan. Ia mendorong Timotius untuk terus melaksanakan tugas pemberitaan
Injil, menegor dan menasehati jemaat, karena akan ada masa di mana orang
percaya tidak ingin lagi mendengar Injil yang asli, tetapi akan memalingkan
muka/mencondongkan hati untuk lebih tertarik pada dongeng dan injil palsu. Mereka
akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan
telinga (ay.3). Mereka tidak akan mencari gembala menurut standar Firman Allah,
tetapi mencari orang yang sesuai dengan keinginan duniawi mereka. Mereka akan
memilih pengkhotbah yang pandai berpidato, mampu menghibur, dan berita yang
akan meyakinkan mereka bahwa mereka dapat tetap menjadi Kristen sementara hidup
menurut tabiat dosa.
Firman Allah yang tertulis harus menjadi pedoman tertinggi dalam
kebenaran dan kelakuan kita. Kita harus memakai firman Allah yang diberikan
oleh Roh Kudus sebagai pedoman untuk menilai kepercayaan dan kelakuan kita.
Kecenderungan gereja untuk mendasarkan doktrin kelakuan, atau kebenaran baru
pada pengalaman sendiri, mujizat, sukses, tujuan atau teori buatan manusia
tanpa pembuktian alkitabiah yang kokoh, akan merupakan salah satu ciri utama
Iblis untuk menipu dalam kemurtadan di hari-hari terakhir. Yesus mengingatkan
semua orang percaya agar berjaga-jaga secara khusus terhadap orang yang mengaku
dirinya sebagai nabi, guru dan pengkhotbah Kristen tetapi yang sebenarnya
palsu, namun mereka mengadakan mujizat, penyembuhan dan tanda-tanda ajaib serta
tampaknya sangat berhasil dalam pelayanan mereka. Pada saat yang bersamaan,
nabi-nabi palsu ini akan memutarbalikkan dan menolak kebenaran dalam Firman
Allah, (tentu saja tidak semua hamba-hamba Tuhan yang saat ini banyak melakukan mujizat adalah nabi palsu. Kita juga harus bisa membedakan!) Dalam injil Matius 7:22-23 tertulis: “Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Rasul Paulus telah menjadi teladan yang nyata kepada semua orang
percaya karena imannya yang sungguh-sungguh murni dihadapan Tuhan. Ia telah
berusaha di dalam peperangan iman, dalam terjemahan lama, “Aku telah berjuang
dalam perjuangan yang baik.” Ketika meninjau kembali hidupnya bersama Allah,
Paulus sadar bahwa ajalnya sudah dekat (ay.6). Ia melukiskan hidup kristennya
sebagai berikut: Ia memandang hidup kristennya sebagai suatu peperangan. Ia
berperang melawan Iblis, keburukan orang Yahudi dan kafir, Yudaisme, kebejatan
dalam gereja, guru-guru palsu, pemutarbalikan Injil, keduniawian, dan dosa. Ia
juga telah menyelesaikan pertandingannya di tengah pencobaan dan godaan dan
tetap setia kepada Tuhan dan Juruselamatnya selama hidup. Paulus sudah
memelihara iman pada masa-masa ujian yang berat, keputusasaan yang hebat dan
banyak kesusahan, baik ketika diserang oleh guru palsu maupun ditinggalkan oleh
sahabat. Paulus tidak pernah mengurangi Injil asli.
Karena Paulus tetap setia
kepada Tuhannya dan Injil yang dipercayakan kepadanya, maka Roh Kudus bersaksi
kepadanya bahwa persetujuan Allah dan “mahkota kebenaran” tersedia bagi dia di
sorga.
Semoga Firman Tuhan ini akan terus menjadi pedoman bagi kita
semua untuk sungguh-sungguh memelihara iman yang murni di dalam Tuhan, dan
berpegang teguh pada Injil asli, tidak terpengaruh atau percaya pada pengajaran
palsu yang sekarang ini semakin berkembang. Paulus menjadi teladan yang indah
bagi kita semua untuk menjalani hidup di dunia ini dengan usaha keras untuk
berlari sampai garis finish, dan memenangkan pertandingan. Di sorga Allah telah
menyiapkan pahala bagi semua orang yang setia pada kebenaran. Amin!
Selasa, 31 Mei 2016
Melihat Diri Sendiri seperti TUHAN Melihat
Berfirmanlah TUHAN kepadanya:
“Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang
Midian itu sampai habis.” (Hakim-hakim 6:16)
Firman Tuhan dalam ayat ini menceritakan seorang yang bernama
Gideon. Gideon, seorang muda berasal dari suku Manasye. Dia dipilih Tuhan untuk
membebaskan bangsa Israel dari tangan orang Midian. Tuhan mengizinkan bangsa
Israel dikuasai oleh bangsa Midian selama 7 tahun karena bangsa Israel berbuat
jahat dimata Tuhan. Mereka sangat menderita karena perbuatan jahat orang
Midian, mereka menjadi sangat melarat dan akhirnya berseru kepada Tuhan dan
Tuhan menjawab seruan mereka. Tuhan mengutus Gideon. Sebagai manusia biasa
Gideon merasa tidak mampu untuk membebaskan bangsanya dari tangan bangsa
Midian, tapi Tuhan melihat Gideon dengan cara yang berbeda. Tuhan melihat bahwa
Gideon mampu melakukannya.
Setiap orang memiliki sebuah gambaran tentang dirinya.
Pertanyaannya adalah, apakah gambaran tentang siapa diri kita sesuai dengan
apa yang Tuhan katakan tentang siapa diri kita? Pribadi-pribadi yang melihat
diri mereka seperti Tuhan melihat biasanya mereka bahagia dengan keadaan
mereka. Mereka tahu bahwa mereka diciptakan dalam gambar Tuhan dan Ia telah
memahkotai mereka dengan kehormatan yang besar. Mereka merasa senang dengan
diri mereka sendiri, karena mereka tahu bahwa Tuhan mengasihi mereka. Tuhan
ingin kita melihat diri kita sendiri sebagai harta karun yang sangat berharga.
Ia ingin kita senang dengan diri kita sendiri. Tuhan mengetahui bahwa kita
tidak sempurna, bahwa kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun demikian
Tuhan tetap mengasihi kita. Ia telah menciptakan kita sesuai gambar-Nya, dan Ia
terus menerus membentuk kita, menyesuaikan kita dengan karakter-Nya, menolong
kita dalam kehidupan kita.
Kita harus belajar untuk mengasihi diri kita sendiri
karena begitulah Tuhan melihat kita. Tuhan ingin supaya kita merasa bahwa kita
dapat melakukan sesuatu yang besar, tetapi terkadang kita berkata: “Aku bukan siapa-siapa.”,
aku tidak bisa melakukannya. Dalam Hakim-hakim 6:12, malaikat Tuhan berkata
kepada Gideon, “Tuhan besertamu, hai pahlawan yang gagah perkasa!” Saat
malaikat itu meneruskan mengatakan kepada Gideon bagaimana Tuhan
menginginkannya menyelamatkan umat Israel dari orang-orang Midian, suatu bangsa
yang bengis dan kafir yang telah menjajah negeri mereka, Gideon memperlihatkan gambaran dirinya yang asli. Ia menjawab, “Bagaimana mungkin engkau mengharapkan aku
menyelamatkan bangsa Israel? Aku berasal dari kaum terkecil dari seluruh suku
Manasye. Dan aku adalah yang paling muda dari keluarga ayahku.” Tetapi memang
menarik jika memperhatikan cara Gideon melihat dirinya sendiri dan cara Tuhan
memandangnya. Walaupun Gideon merasa tidak memenuhi syarat, ketakutan, dan kekurangan rasa percaya diri,
Tuhan masih menyebutnya sebagai seorang pahlawan yang gagah berani. Gideon
merasa lemah Tuhan memandangnya sebagai orang kuat. Gideon merasa tidak
memenuhi syarat, Tuhan memandangnya sebagai orang yang mampu melakukan pekerjaan
itu. Gideon tidak merasa aman, Tuhan memandangnya cukup mempunyai rasa percaya
diri dan ketegasan untuk memimpin umat-Nya kedalam peperangan dan keluar
sebagai pemenang. Dan Gideon berhasil. Demikian juga dengan kita. Tuhan
memandang kita sebagai seorang pemenang. Mungkin kita tidak melihatnya, tapi
Tuhan melihat. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah mempercayai Dia, dan mulai
berpikir hal yang baik mengenai diri kita. Tuhan ingin kita menjadi seorang
pemenang. Tuhan ingin kita menjadi seorang pemenang dari gambaran diri yang
buruk, citra diri yang buruk, dan menjadi pemenang dalam kehidupan yang penuh
dengan perbuatan dosa. Tuhan ingin menjadi pemenang untuk mengalahkan perbuatan
jahat yang mengusai seluruh hidup dan pikiran kita. Tuhan ingin kita menjadi
pemenang atas dosa, kuasa jahat iblis yang berusaha untuk menjatuhkan kita.
Tuhan ingin kita menjadi
pemenang, dan Tuhan ingin memakai kita menjadi alat-Nya untuk membebaskan
mereka yang sedang menderita karena perbuatan dosa. Mereka tidak tahu tentang Tuhan
yang benar, mereka tidak tahu tentang Jesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat manusia. Mereka tidak tahu tentang kabar baik keselamatan… Kita
adalah salah seorang yang ditugaskan Tuhan untuk melakukan tugas itu! Hargai
diri kita seperti yang Tuhan ciptakan, dan supaya kita menjadi efektif dalam
mengungkapkan kasih Tuhan kepada sesama, amin!
Langganan:
Postingan (Atom)