Sabtu, 21 Juni 2014

Penderitaan dan Ketekunan




  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 

  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

  Tetapi apabila  di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit-, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

  Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.

  Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia menerima sesuatu dari Tuhan.

  Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yakobus 1:2-8)

   Yakobus menuliskan ini untuk membangun semangat orang percaya yang
sedang menderita berbagai pencobaan. Dalam bagian ini, kata “pencobaan”menunjuk kepada penganiayaan dan kesulitan yang terjadi, yang datang dari dunia atau Iblis (walaupun dalam pasal selanjutnya Yakobus mengatakan bahwa pencobaan itu berasal dari keinginan diri sendiri karena dipikat dan diseret olehnya). Dalam menghadapi pencobaan, Yakobus menekankan bahwa orang percaya harus bersukacita dan berbahagia. Tentu sulit untuk bersukacita dan berbahagia di tengah keadaan yang sulit, banyak orang tidak akan sanggup melakukan itu. Saya pun tidak.  Namun, kenapa orang Kristen diajar untuk bersukacita apalagi berbahagia di saat mengalami masa-masa yang sulit? Karena, pencobaan yang terjadi adalah pengujian terhadap iman kita. Iman kita hanya dapat mencapai kedewasaan penuh apabila diperhadapkan dengan kesulitan dan tantangan.  Pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya Allah dapat menguji kesungguhan iman mereka. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kesulitan di dalam hidup ini selalu menandakan bahwa Allah tidak senang dengan kita. Bahkan surat Ibrani 12:5-11 mengatakan: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita beroleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

   Didikan Tuhan atas orang-orang percaya dan kesukaran serta penderitaan yang diizinkan-Nya terjadi dalam kehidupan kita, semuanya itu merupakan tanda bahwa kita adalah anak-anak Allah. Semuanya itu merupakan jaminan bahwa Allah mengasihi dan memperhatikan kita. Penderitaan adalah hal yang menyakitkan dan sangat tidak menyenangkan. Namun, penderitaan datang untuk menjadikan kita lebih bijaksana, untuk menghapuskan kesombongan kita dan kehidupan yang semu. Tujuan penderitaan adalah untuk memperbaiki hal-hal yang rusak dalam kepribadian kita. Penderitaan pun bisa terjadi walaupun orang tidak melakukan dosa. Penderitaan menyebabkan rasa sakit pada jasmani dan rohani kita, tapi rasa sakit ini perlu karena dapat menyelamatkan kita dari kehancuran total. Tanpa penderitaan, manusia akan menuju kehancuran. Penderitaan atau rasa sakit, adalah KARUNIA. "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29). KARUNIA yang tidak seorangpun suka menerimanya. Philip Yancey, dalam bukunya yang berjudul, Where Is God When It Hurts, mengilustrasikan dalam tulisannya tentang seorang penderita kusta. Seorang penderita kusta, tanpa ragu akan mengambil sepotong ubi yang jatuh dalam bara api karena ia tidak merasakan panasnya api tersebut. Tangan dan jarinya akan terbakar dan akan melepuh, terkena infeksi, bernanah, membusuk, dan akhirnya lepas dari tubuhnya. Dalam proses ini, ia sama sekali tidak mengalami rasa sakit. Seorang penderita kusta lainnya mengalami kebutaan. Tiap pagi ia mencuci mukanya dan membersihkan matanya dengan air. Ia tidak sadar bahwa air yang digunakannya adalah air panas. Tetapi, ia tidak merasakan panasnya air itu. Oleh sebab itu, biji matanya terbakar. Semua proses ini terjadi karena ia tidak mengalami rasa sakit. Kedua kasus ini terjadi karena mereka kehilangan rasa sakit, kehilangan unsur rasa yang ada pada tubuh mereka. Akibat hilangnya perasaan ini, ia tidak dapat melindungi bagian tubuhnya yang terancam bahaya.  Penderitaan dalam bentuk rasa sakit dibutuhkan untuk melindungi tubuh. Rasa sakit dibutuhkan untuk menyelamatkan bagian tubuh kita. Rasa sakit dibutuhkan untuk mengadakan aksi perbaikan: menarik tangan dari api dan air panas supaya tidak terjadi hal yang lebih parah.

   Seorang penulis Kristen terkenal lainnya, C.S LEWIS, mengatakan bahwa penderitaan adalah “megafon Tuhan” kepada kita untuk menyadarkan kita. Seruan Tuhan ini bisa membuat kita membenci Dia dan menjauhkan diri dari Dia karena penderitaan yang Dia izinkan itu, tetapi sebaliknya, seruan Tuhan dapat menyadarkan kita dan membawa kita kembali kepada Dia.” Itulah sebabnya kita perlu mengalami penderitaan untuk menyelamatkan kehidupan rohani kita yang berdosa ini dari kemusnahan. Penderitaan dibutuhkan untuk menyadarkan kita dari dosa dan mengarahkan diri kita kepada jalan yang membawa kita kepada keselamatan.

  Seperti sudah dituliskan diatas bahwa ada dua kemungkinan akibat yang terjadi karena didikan Tuhan ini; Pertama; kita akan tetap bertahan dalam kesukaran karena pimpinan Allah dan tunduk kepada Allah dan tetap setia kepada-Nya seperti Daniel yang dibuang ke gua singa dan tetap percaya kepada Tuhan; dan kemungkinan kedua; mungkin kita akan memandang ringan didikan Tuhan ini, memberontak kepada Tuhan karena penderitaan dan kesukaran, dan oleh karena kesukaran dan penderitaan ini, kita kecewa, kita bisa berkata bahwa Tuhan jahat, kita bisa meninggalkan Tuhan bahkan murtad dari Allah. Hal ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Tapi biarlah di dalam segala bentuk kesengsaraan, kita harus lebih sungguh-sungguh mencari Allah lewat doa, puji-pujian, dan firman-Nya yang menguatkan kita. Kita juga harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kekudusan-Nya, karena Tuhan berfirman: “Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Menjadi kudus berarti terpisah dari dosa dan dikhususkan bagi Allah, hidup dekat dengan Allah, mencari kehadiran-Nya, kebenaran dan persekutuan-Nya dengan sepenuh hati. Kekudusan merupakan prioritas utama Allah bagi para pengikut-Nya. Kekudusan merupakan maksud Allah bagi umat-Nya ketika Ia datang ke bumi ini. Kekudusan merupakan maksud Allah bagi umat-Nya ketika Kristus harus menyerahkan diri-Nya disalib untuk kita. Kekudusan merupakan maksud Allah ketika menjadikan kita ciptaan baru dan memberikan Roh Kudus kepada kita. Tanpa kekudusan tak seorang pun dapat berguna bagi Allah. Tanpa kekudusan tak mungkin kita dekat atau bersekutu dengan Allah. Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Allah.

      Ya, mungkin saat ini kita diperhadapkan dengan pencobaan yang sangat
berat, kesedihan,kesehatan bermasalah, kondisi keuangan tipis dan tidak punya pekerjaan, atau bekerja tapi gaji yang sangat minim dan tidak mencukupi kebutuhan keluarga, di caci maki, difitnah, dibenci, ditekan tanpa kita tahu kesalahan kita, diperlakukan tidak adil oleh orang lain, ditipu dan sebagainya…Ingat! Tuhan ada bersama kita! Dia tidak meninggalkan dan membiarkan kita menanggung penderitaan itu seorang diri.. Dia sangat mengasihi kita.  Dia hanya INGIN, lewat kesulitan dan penderitaan, kita mau datang dan sungguh-sungguh mencari Dia. Dia tidak menginginkan kita tersesat dan akhirnya binasa. Oleh karenanya, saat ini jika ada yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup, jangan berhenti mempercayai Tuhan, jangan meninggalkan Tuhan apalagi murtad! Tetap bertekun dalam iman percaya kita kepada-Nya. Disaat kita terus mempercayai-Nya, Dia akan memberikan kita kekuatan untuk menanggung segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi dalam hidup kita.  Amin!!!   


Sabtu, 31 Mei 2014

Pentingnya Kebangkitan

Kebangkitan YESUS adalah salah satu kebenaran utama dalam injil. Mengapa kebangkitan YESUS penting bagi kita yang percaya kepada-Nya? Ada beberapa alasan yang dapat saya tuliskan di bawah ini:

  1. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah dan Tuhan. Roma 1:4: “…dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”
  2. Kebangkitan Yesus menjamin bahwa betapa mujarab dan manjurnya “kematian-Nya yang menebus dosa manusia.” Sebagaimana Kristus telah bangkit dari antara orang mati, demikian juga orang yang percaya kepada-Nya akan hidup dalam hidup yang baru. 
  3. Kebangkitan Yesus membuktikan kebenaran Alkitab. Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
  4. Kebangkitan Yesus memastikan bahwa akan ada penghakiman bagi orang fasik di masa depan.
  5. Kebangkitan Yesus menjadi dasar karunia Roh Kudus dan hidup kekal.
  6. Kebangkitan Yesus memastikan bahwa orang percaya kelak akan berada dengan Dia di sorga dan membangkitkan serta mengangkat orang percaya dalam kedatangan-Nya yang Kedua Kali di dunia.



Kebangkitan Yesus merupakan suatu peristiwa yang  terbukti secara histories. Setelah Yesus bangkit, Ia tetap tinggal di bumi selama 40 hari, menampakkan Diri dan berbicara  kepada murid-murid-Nya dan pengikut-pengikut-Nya. Ia juga memberikan perintah kepada murid-murid-Nya, untuk menjadikan orang-orang dari semua bangsa menjadi murid-Nya. Dalam Alkitab terjemahan NIV dikatakan: “ Therefore go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit… ” (Matthew 28:19). Saya menafsirkan, jadikan murid-murid Yesus dari setiap bangsa/ jadikan orang-orang dari setiap bangsa murid-Nya. Mungkin agak berbeda dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia yang menerjemahkan: “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…  ”(Mohon maaf kepada LAI atau pihak terkait, apakah saya yang salah mengartikan ayat ini, saya berharap ada orang yang lebih tahu dapat menjelaskan kepada saya). Kata-kata ini merupakan Amanat Agung Yesus Kristus kepada kesebelas murid-murid-Nya di sebuah bukit di Galilea tempat yang disebut Yesus bahwa mereka akan bertemu di situ. Amanat ini menyatakan sasaran, tanggungjawab dan tugas yang harus  dilaksanakan oleh para murid. Tugas yang berat, tapi Yesus berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Tugas yang berat tapi indah dan mulia. Tugas yang Yesus perintahkan sebelum Ia terangkat ke Sorga. Tugas ini berlaku bukan hanya kepada kesebelas murid Yesus yang pada waktu itu bersama-sama dengan Dia, tetapi kepada kita semua yang percaya kepada-Nya, termasuk kewajiban gereja untuk mengutus utusan gerejani ke setiap bangsa.  Perlu diingat bahwa perintah ini bukan menjadikan orang menjadi orang Kristen, Pengkristenan atau Kristenisasi, tetapi menjadikan orang menjadi murid Yesus. Artinya menyampaikan, mengajar, mendidik dan membuat semua orang yang percaya kepada Yesus bukan sekedar bertobat, tetapi memisahkan diri dari kehidupan dunia yang bertentangan dengan perintah –perintah-Nya dan sungguh-sungguh mentaati perintah-perintah-Nya dengan segenap hati, pikiran dan kehendaknya. Ini juga berlaku kepada mereka yang sebelumnya bukan orang yang percaya kepada Kristus tetapi mereka mendengar kesaksian tentang Yesus, kemudian dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan, mengambil keputusan  untuk percaya kepada Yesus.

Tugas ini (Amanat Agung) harus dilakukan oleh semua orang percaya  dengan tujuan menyaksikan, menyampaikan, memberitakan, menceritakan tentang Yesus kepada semua orang. Yesus adalah Penyelamat manusia karena manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan “barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16 b). Dalam kalimat ini kembali lagi saya katakan bahwa “FREE WILL atau KEHENDAK BEBAS” berperan penting.  Orang yang percaya kepada Yesus, adalah hasil dari pilihannya untuk menggunakan kehendak bebasnya atau free willnya untuk percaya kepada Yesus, sebaliknya orang yang tidak percaya kepada Yesus, iapun menggunakan kehendak bebasnya atau free willnya untuk tidak percaya kepada Yesus. Jadi, jika ada orang yang memilih percaya kepada Yesus setelah ia mendengar kabar atau cerita tentang Yesus, itu bukan dijadikan Kristen atau Kristenisasi, tapi karena PILIHAN-nya ia memilih untuk percaya.


Rabu, 09 April 2014

Pekerjaan Anda Penting Bagi ALLAH



“Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah”, buku ini saya rekomendasikan kepada saudara-saudara untuk di baca karena buku ini cukup bagus untuk menambah wawasan dan meneguhkan panggilan saudara dalam pekerjaan. Buku ini membuka pikiran saya dan mengubah cara pandang saya tentang pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan baik yang dicari dan sedang dikerjakan banyak orang. Bukan pekerjaan sebagai pencuri, perampok, pengemis, penipu, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak berkenan kepada Tuhan. 
Terdorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak dari seorang penulis Kristen (Seward Hiltner) tahun 1974 yang menuliskan bahwa kekristenan sangat membutuhkan teologi tentang pekerjaan, namun menurutnya menyusun teologi  merupakan suatu proses yang sama seperti membangun katedral atau gedung gereja yang besar di Eropa, tidak dapat terbentuk hanya dalam waktu beberapa bulan, melainkan dapat memakan waktu yang cukup lama. Dilatarbelakangi dengan hal yang sama dan kebutuhan yang sangat mendesak ini, maka Dough Sherman & William Hendricks menuliskan buku: “ Your Work Matters to God” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gerrit J. Tiendas.

Menurut pengamatan penulis, setiap hari jutaan pekerja masuk kerja tanpa melihat adanya hubungan antara apa yang mereka kerjakan dan apa yang dikehendaki Allah agar terlaksana di dalam dunia ini. Sebagai contoh seorang penjual asuransi, penjual asuransi ini mungkin tidak mempunyai bayangan apakah Allah menginginkan adanya penjualan asuransi atau tidak. Apakah hal menjual asuransi itu penting bagi Allah atau tidak?

 Berikut adalah kisah penulis yang saya kutip: “Ketika ia masih seorang penerbang pesawat tempur  di Pangkalan Udara Webb di Big Spring, Texas, tempatnya menghabiskan waktu adalah di kamar penerbangan. Tempat ini adalah tempat para instruktur penerbangan bertemu sebelum dan sesudah melakukan misi penerbangan. Mereka merupakan suatu kelompok pergaulan yang menyenangkan! Seperti sebuah film ‘Top Gun’ begitulah dunia mereka. Kelompok itu merupakan masyarakat penerbangan supersonic dan kegenda manusia supersonic, legenda manusia super berteknologi tinggi serta bertegangan tinggi. Di udara, mereka mendorong para siswa, diri mereka sendiri, dan pesawat-pesawat mereka untuk terus berpacu sampai batas-batas kemampuannya.


Rabu, 19 Februari 2014

MERINDUKAN TUHAN



“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mazmur 42:2,3)  


   Sama halnya dengan manusia, hewan juga membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Rusa (deer) adalah hewan mamalia pemamah biak yang termasuk familia cervidae. Salah satu ciri khas rusa adalah adanya antler (tanduk rusa), yang merupakan pertumbuhan tulang yang berkembang setiap tahun (biasanya pada musim panas) terutama pada rusa jantan (walaupun ada beberapa pengecualian). Rusa umumnya luwes, memiliki kaki yang kuat dan cocok untuk hidup di medan hutan yang kasar. Rusa juga adalah peloncat (jumper) yang sangat baik, juga perenang (swimmer). Rusa membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan minum. Rusa memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relative tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai. Rusa memakan daun-daunan (vegetable materials) dan berbagai macam buah-buahan yang dapat di makan. Rusa juga makan rumput di padang gurun (grazing), makan daun-daunan semak di hutan dan makan jamur yang tumbuh di bawah pohon. Rusa makan dari bagian tumbuhan mulai dari pucuk kemudian daun muda dan tua, dan batang yang muda. Rusa yang hidup di alam akan mendapatkan air dan sumber air di permukaan, seperti air sungai, danau, waduk, parit, atau mata air.

   “Bani Korah” adalah keluarga suku Lewi yang pandai menyanyi. “Maskil” (nyanyian pengajaran), menggambarkan kerinduan mereka kepada Allah yang begitu dalam. Kerinduannya kepada Allah yang begitu dalam itu dalam ayat ini digambarkan seperti seekor rusa yang merindukan air. Seekor rusa yang haus akan pergi ke sungai atau sumber air, berlari dan meloncati semak belukar sampai nafasnya terengah-engah untuk dapat sampai ke sungai atau mata air. Dalam Alkitab terjemahan NIV (New International Version) dituliskan: “ As the deer pants for stream of water, so my soul pants for You, O God.”  (Psalm 42:1). Dalam Alkitab Indonesia ayat 2.

    Ayat 2, NIV menuliskan; “ My soul thirsts for God, for the living God. When can I go and meet with God? (Alkitab Indonesia ayat 3). Apa yang membuat sang pemazmur begitu merindukan dan haus akan Tuhan? Kenapa juga dia harus bertanya kapan aku boleh datang dan bertemu dengan Tuhan?  Ternyata sang pemazmur mengalami pergumulan yang amat berat. Air matanya menjadi makanannya siang dan malam, dan seperti tikaman maut dalam tulang-tulangnya orang-orang disekelilingnya mencela dia, “ Di mana Allahmu”? (Where is your God)? Dia mempercayai Allah tapi sepertinya pertolongan dari Allah tidak kunjung tiba. Allah seolah-olah diam membisu dan membiarkannya dalam kesusahan. Dalam keadaan yang sulit seperti itu, ia bertanya lagi pada dirinya sendiri: “ Why are you downcast, O my soul? (Mengapa engkau susahsedihputus asa, hai jiwaku)? Why so disturbed within me? (Mengapa aku sangat terganggu/gelisah)? Ia bertanya kepada dirinya sendiri, tapi ia juga menjawab pertanyaannya sendiri. Ia katakan: “Put your hope in God, for I will yet praise Him, my Savior and my God.” (Berharaplah kepada Allah, aku akan memuji Dia, Juruselamat dan Allahku). 

Kamis, 30 Januari 2014

YESUS Terang Hidup



“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12)



   Terang/cahaya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Makanya pada hari pertama “penciptaan”, Allah menciptakan “terang.” Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkannya terang itu dari gelap. Bukan hanya itu, Ia juga menciptakan benda-benda penerang, yaitu matahari untuk menerangi pada siang hari dan bulan serta bintang-bintang untuk menerangi pada malam hari. Dan Allah melihat bahwa semua yang Ia ciptakan itu sangat baik. “Terang” sangat penting dan berarti dalam hidup manusia.

   Bahkan seorang manusia yang dikaruniai Tuhan kecerdasan/kepintaran dan ketekunan, menciptakan benda penerang yang sampai hari ini kita pakai. Thomas Alva Edison, seorang ilmuwan asal Amerika, dan  merupakan salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah. Edison mulai bekerja pada usia yang sangat muda dan terus bekerja sampai akhir hayatnya. Selama karirnya Thomas Alva Edison telah mempatenkan sekitar 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramophone, juga kamera film. Ketiga penemuannya membangkitkan industri-industri besar bagi industri listrik, rekaman dan film yang akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia.  Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah menciptakan seorang yang bernama Thomas Alva Edison, berterima kasih kepada orang tuanya dan juga patut memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Thomas Alva Edison karena dengan ketekunan dan kerja kerasnya, ia mampu membuat sesuatu yang sangat berarti dalam hidup manusia. Bayangkan saja, jika sampai hari ini tidak ada lampu listrik dalam rumah kita. Walaupun Tuhan sudah menciptakan benda penerang pada waktu malam dan siang, tapi itupun tidak cukup untuk dapat menerangi bagian-bagian dalam rumah kita. Bukan berarti bahwa apa yang Tuhan ciptakan tidak sempurna, Tuhan memberikan wewenang/hak kepada manusia untuk menguasai alam semesta termasuk apa yang ada di dalamnya. Mengusahakan kehidupan supaya lebih baik, dan Thomas Alva Edison termasuk di dalamnya.


  Sahabat…! Semua yang kita bicarakan di atas sangat penting dalam hidup kita.  Tapi mari kita berpikir lebih dari sekedar yang kita bicarakan itu. “Terang hidup”. Apa itu? Manusia yang Tuhan ciptakan telah dikaruniai Tuhan kepintaran dan  kecerdasan yang luar biasa sehingga membuat dunia ini dan apa yang ada didalamnya semakin hari semakin indah, semakin canggih, mempesona dan menjadi daya tarik yang hebat. Namun diantara semua kemajuan-kemajuan itu, tidak bisa disangkal bahwa apa yang menjadi daya tarik itu; justru terkadang membuat manusia meninggalkan dan melupakan Tuhan bahkan tidak mempercayai Tuhan. Manusia lebih mempercayai akal dan pikiran, lebih daripada mempercayai Tuhan. Lebih mempercayai manusia daripada mempercayai Tuhan. Manusia lebih menaruh harapan kepada kemakmuran, kekayaaan bahkan ketenaran; dan di saat manusia tidak menaruh harapannya kepada Tuhan, mengandalkan pikiran sendiri, sebenarnya itu juga adalah dosa. Dosa bukan hanya melakukan perbuatan-perbuatan jahat seperti mencuri, berzinah, berbuat cabul, merampok, membunuh, berbohong, dan lain-lain, tapi juga pada saat kita tidak mengandalkan Tuhan dan tidak mengizinkan Tuhan menjadi pusat dalam seluruh hidup kita. Tuhan tahu bahwa manusia dalam dunia ini semua adalah orang berdosa. Bahkan kita sendiri, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1: 8 ). Kita adalah orang berdosa, secara rohani artinya bahwa kita berada dalam kegelapan. Ya, walaupun saat ini kita berada dalam kamar atau ruangan yang diterangi cahaya lampu yang terang, atau matahari dan bulan yang sedang bersinar sehingga sekitar kita menjadi terang, tapi kita adalah orang berdosa artinya kita berada dalam kegelapan.


Kamis, 02 Januari 2014

Jangan Mengasihi Dunia!

Mengapa orang Kristen dilarang untuk mengasihi dunia? Alkitab dalam kitab 1 Yohanes 2:15-16 menuliskan: Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia,maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”

“Dunia” (Yun, kosmos) menunjuk kepada system luas dari zaman ini yang dipromosikan Iblis dan terpisah dari Allah. System ini terdiri atas kesenangan dunia, roh pemberontakan /ketidakacuhan terhadap Allah.
 Di zaman ini Iblis mempergunakan banyak hal untuk menentang Allah dan menyesatkan manusia. 
Sebagai contoh, Iblis mempergunakan ilmu kesehatan untuk membantu pembunuhan bayi-bayi yang belum lahir, pertanian untuk menghasilkan obat bius dan alcohol yang merusak hidup manusia, system pendidikan yang mempromosikan filsafat humanistic, dan media hiburan yang membinasakan standar rohani. 
Orang Kristen harus sadar bahwa dibelakang usaha manusia ada roh atau kuasa yang bergerak melawan Allah dan Firman-Nya, beberapa tidak begitu hebat, tapi beberapa amat hebat. “Dunia” juga mencakup semua system agama buatan manusia , organisasi dan gereja “Kristen” yang tidak alkitabiah, bersifat duniawi dan suam-suam kuku.