Senin, 09 Februari 2015

Penghiburan di Tengah Ketidakpastian


Bacaan Alkitab: Yesaya 40:1-8: 
1 Hiburkanlah-hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, 
2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN  dua kali lipat karena segala dosanya.
3 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!
4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."
6 Ada suara yang berkata: "Berserulah!" Jawabku: "Apakah yang harus kuserukan?" "Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.
7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembuskannya dengan nafasnya. Sesungguhnya bangsa itu seperti rumput.
8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."    

    Di tengah keputusasaan dan ketidakberdayaan dan bahkan kehilangan harapan karena berada dalam pembuangan di Babel, bangsa Israel seharusnya bersukacita karena Allah tidak meninggalkan mereka. Allah tetap mengingat dan ingin menyelamatkan mereka, namun Ia menghendaki seorang pemimpin yang mau menyampaikan suara Tuhan kepada bangsa Israel. Yesaya terpanggil untuk menyuarakan isi hati Tuhan kepada bangsa Israel. Melalui suatu penglihatan, Tuhan datang kepadanya dan bertanya: “Siapakah yang akan Kuutus?  Yesaya menyahut: “Ini aku, utuslah aku.” Yesaya sadar bahwa ia adalah orang berdosa, seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun Tuhan tidak melihat latarbelakang kehidupannya yang berdosa. Tuhan tahu kelemahan manusia dan hamba-Nya yang mau meresponi panggilan-Nya, dan Tuhan tidak membiarkan hamba-Nya itu dalam dosa. Tuhan mengampuni dosa-dosa Yesaya. Sebelumnya Tuhan bertanya kepada Yesaya, “Siapakah yang akan Kuutus?” Tuhan sudah terlebih dahulu menyentuh bibirnya. Artinya Tuhan sudah mengampuni dan menyucikan dosa-dosa Yesaya. Kelemahannya dalam hal perkataan, bibir yang membicarakan hal berdosa dan najis telah disucikan Tuhan. “Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”. Tuhan mau memakai seseorang yang meresponi panggilan-Nya dengan tulus dan kesungguhan.

    Pada bagian ini , ada beberapa berita penting yang Tuhan ingin, nabi Yesaya sampaikan kepada bangsa Israel:
Pertama: Berita Penghiburan (ay. 1)
    Sebuah kalimat sederhana tapi mempunyai makna yang dalam. “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikianlah firman Allahmu.” Yesaya sampaikan kata-kata ini kepada bangsa Israel bahwa Tuhan ingin menghibur mereka. Kenapa bangsa Israel harus dihibur? Karena Tuhan tahu bahwa mereka berada dalam penderitaan yang dalam, mereka berada dalam pembuangan, mereka berada dalam keputusasaan, mereka kehilangan harapan, mereka berada dalam perhambaan. Berita sukacita dari Allah yang diserukan melalui hambanya nabi Yesaya kepada segenap umat Israel untuk tenang, tidak takut. Allah yang menghukum umat Israel karena dosa-dosanya  dalam pembuangan di Babel adalah juga Allah yang penuh belaskasihan dan penuh pengampunan. Tidak selamanya Allah membiarkan umat-Nya berada dalam kesengsaraan dan penderitaan.  Ia telah memerintahkan hamba-Nya nabi Yesaya untuk menyerukan bahwa : “Perhambaan mereka telah berakhir dan kesalahan mereka telah diampuni oleh Tuhan” (ay.2).
Kedua: Berita Keselamatan (ay.3)
    Yesaya menubuatkan kedatangan Sang Juruselamat ke dalam dunia yang membebaskan manusia dari kutuk dan penghukuman. Sang Juruselamat yang akan menyelamatkan manusia dari kematian kekal. Karena itu, jalan itu harus dipersiapkan. “Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran” (ay. 4). Yohanes Pembaptis dialah yang mempersiapkan jalan untuk Tuhan, yang mempersiapkan kedatangan Juruselamat,. Nubuat tentang seorang yang mempersiapkan Jalan Tuhan sudah dinubuatkan nabi Yesaya jauh sebelumnya. Untuk mempersiapkan Jalan untuk Tuhan, semua umat-Nya harus bertobat, menyucikan diri agar kemuliaan Tuhan dinyatakan di tengah-tengah umat-Nya. Tuhan akan dimuliakan ditengah-tengah umat-Nya yang mempersiapkan diri dan mempersiapkan Jalan Tuhan.
Ketiga: Berita Kekekalan (ay. 8)
    Yesaya menyampaikan kepada umat Israel bahwa manusia adalah seperti rumput dan semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnya bangsa itu seperti rumput (ay. 7). Firman Tuhan ini mengajarkan umat Israel untuk tidak membanggakan diri, karena manusia sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Manusia diibaratkan hanya seperti rumput. Sebentar saja layu, oleh karena itu manusia jangan menjadi sombong. Tubuh manusia adalah fana, tidak kekal. Yang kekal adalah Firman Allah (ay. 8): “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap selama-lamanya.” Ayat ini tersirat pentingnya mendengar firman Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan firmankan. Oleh karena itu bangsa Israel jangan meremehkan hamba-hamba-Nya yang menyampaikan firman Allah, terlebih jangan meremehkan firman Allah yang disampaikan itu. Firman Allah memberikan kehidupan kekal kepada setiap orang yang percaya akan perkataan-Nya.

    Firman Tuhan ini bukan hanya dikhususkan kepada orang Israel saja, tetapi kepada semua orang percaya dan orang yang belum percaya dimanapun berada. Tuhan mengasihi semua orang yang berada dalam penderitaan, keputusasaan, kemalangan dan ketidakberdayaan karena dosa. Tuhan mengasihi, melawat, mengampuni bahkan ingin menyelamatkan. Allah yang mengasihi umat Israel adalah Allah yang sama yang mengasihi kita semua. Saat ini Tuhan sedang menunggu kita untuk datang kepada-Nya. Marilah kita mau datang kepada Tuhan yang mampu memberi kita hidup kekal, Allah yang begitu mengasihi kita, Allah yang berbelaskasihan kepada orang berdosa. 
Tuhan ingin supaya kita percaya dan taat.
Jangan lewatkan kesempatan yang ada, datang kepada Tuhan, saat ini Dia sedang menunggu kita karena Dia sangat mengasihi kita. Jangan abaikan kesempatan yang ada, jangan abaikan suara-Nya yang memanggil kita, dan jangan menolak kasih-Nya. Tuhan berkata bahwa manusia seperti rumput..hidup kita di dunia ini tidak kekal, hanya sementara. Tapi kita akan hidup dalam kekekalan, nanti... setelah kesempatan kita hidup di dunia berlalu...entah kita akan hidup kekal di sorga atau hidup kekal di neraka, tapi Tuhan ingin kita bersama Dia di tempat yang menyenangkan, di sorga yang kekal.
Oleh karena itu Tuhan mau supaya kita semua percaya dan taat kepada-Nya hari demi hari. Amin!!

Kamis, 01 Januari 2015

Janji Allah


January 1, 2015

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. (Keluaran 19:5)


Pernahkah dalam kehidupan kita, kita memusatkan perhatian pada sesuatu hal? Mungkin pekerjaan, keluarga, teman, hobby dan focus pada masa depan?
          Untuk mencapai atau mendapatkan apa yang menjadi focus kita itu pasti ada yang harus kita buat dan lakukan.
          Firman Tuhan ini mengingatkan kita akan janji Allah. Apa janji-Nya?
Status
          Status bangsa Israel diantara bangsa lain adalah menjadi harta kesayangan TUHAN dari antara segala bangsa. Harta kesayangan, artinya sesuatu atau barang yang berharga.
          Barang yang berharga banyak dicari orang. Mereka berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan atau sesuatu yang berharga itu dengan giat, ulet dan tekun.
          Kita juga adalah umat yang berharga di mata Tuhan. Umat kesayangan Tuhan. Namun untuk mendapatkan gelar atau status tersebut, ada usaha yang harus dibuat.
Kita harus sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan.
Dalam Alkitab terjemahan NIV adalah "..Now if you obey me fully.." : “Sekarang jika kamu sungguh-sungguh menaati Tuhan..." Israel sebagai umat pilihan Allah tergantung pada ketaatan mereka kepada Tuhan. Firman Tuhan jelas, jika mereka taat, mereka akan menjadi harta kesayangan Tuhan.
Prinsip ketaatan adalah unsur penting dalam hubungan kita dengan Tuhan. Jika kita taat, maka janji Allah akan dipenuhi dalam hidup kita. 


Senin, 22 Desember 2014

The Message From the Angel

    Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahkta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabeth, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luke 1:30-38).

  Kelahiran Yesus yang dirayakan oleh seluruh umat Kristen di seluruh dunia adalah hari di mana semua orang Kristen bersukacita. Hari di mana orang-orang yang sudah lama tidak ke gereja, datang ke gereja pada hari Natal sehingga gereja harus membuat tenda tambahan. Hari di mana orang- orang bersukacita bersama-sama dengan keluarga dan orang Kristen lainnya.  Hari di mana  Sinterklas/Santa Claus is coming to town membawa banyak hadiah untuk dibagi-bagikan. Hari di mana perayaan Natal dilaksanakan di berbagai gereja dan tempat. Hari di mana banyak ibu-ibu mempersiapkan, membeli atau membuat kue  supaya di rumah banyak kue untuk dihidangkan kepada  tamu dan juga supaya seisi rumah bergembira dan menikmati kue yang enak. Hari di mana banyak lampu-lampu yang indah warna-warni dipasang, hari dimana pohon natal dari berbagai ukuran dipasang dan dihias dengan sangat indah dan menarik. Hari di mana banyak orang merayakan pesta natal. Ya, dengan cara bagaimanapun  saudara-saudari merayakan natal (hari lahirnya Yesus) itu adalah hak istimewa saudara. Namun, saya ingin mengajak saudara-saudari dan teman-teman untuk bersama-sama merenungkan Firman Tuhan ini walaupun kita sudah sering mendengarnya dalam khotbah-khotbah Natal. 
   Berita tentang lahirnya Yesus disampaikan oleh seorang malaikat yang disuruh Allah kepada seorang perawan yang bernama Maria. Maria menyadari bahwa ia belum kawin, makanya setelah ia mendengar apa yang dikatakan malaikat bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, ia berkata bagaimana mungkin hal itu akan terjadi, karena aku belum bersuami? Maria tidak percaya dengan apa yang didengarnya.  Tapi malaikat kembali berkata bahwa Roh Kudus akan turun dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dia, sehingga Anak yang dia lahirkan akan di sebut kudus, Anak Allah...
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari bagian Firman Tuhan ini? 
1. Yesus, yang kelahirannya dirayakan oleh semua orang Kristen adalah bukan bayi biasa, bukan seperti kita. Manusia banyak dosa. Yesus adalah bayi Suci/Kudus. Dia adalah bayi yang dikandung dari Roh Kudus. Dia adalah Anak Allah. Anak Allah? Apakah Allah mempunyai Anak?  Mungkin kita tidak percaya dan tidak mau mempercayainya karena itu ajaran aneh. Masakan Allah beranak? Orang Kristen ajarannya aneh.Tapi saya hanya ingin katakan bahwa, Allah begitu mengasihi manusia yang berdosa seperti kita. Bukan berarti Allah senang dengan dosa-dosa kita, tapi Dia kasihan dengan kita karena kita akan mati, binasa dan menderita selamanya di neraka akibat dari dosa-dosa kita. Kita tidak akan bisa menyelamatkan diri kita sendiri karena setiap saat kita berbuat dosa baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Orang berdosa harus dihukum dan hukumannya adalah di lempar di neraka yang sangat panas dan selamanya kita ada di sana. Kita ingin mati tapi tidak bisa. Kita disiksa selamanya. Allah kita tidak menginginkan itu terjadi kepada kita karena Dia begitu mengasihi kita, manusia ciptaan-Nya. Allah yang kita sembah, yang tidak bisa kita lihat adalah Allah yang Agung, Suci, Mulia, tidak ada seorang pun yang bisa datang dan melihat Dia secara langsung. Allah kita adalah ruh/roh, Dia tidak kelihatan tapi Dia ingin menyelamatkan kita. Bagaimana caranya? 
-Kita hidup baik, kudus, mengasihi, beramal, memberi banyak persembahan. 
-Kita banyak memberi sumbangan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu, dan banyak lagi perbuatan baik kita.
   Apakah itu cukup? Tidak! Setiap saat kita berdosa dan dosa kita tidak akan bisa dihapus hanya oleh persembahan-persembahan dan perbuatan baik atau amal kita. Malaikat yang disuruh Allah, berbicara kepada Maria bahwa Maria akan mengandung seorang bayi kudus yang diberi nama Yesus itu, Dialah yang akan menyelamatkan manusia. Dia harus dilahirkan sebagai bayi sama seperti manusia supaya dapat menyelamatkan manusia. Itu adalah pekerjaan Allah. Allah yang menyuruh malaikat untuk bertemu dan berbicara dengan Maria bahwa ia akan mengandung.
2. Bagi Allah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah (For nothing is impossible with God). Allah mampu melakukan segala sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia. Allah mampu membuat Elisabeth yang mandul dan sudah tua itu mengandung seorang bayi yang nantinya akan mempersiapkan jalan untuk kedatangan Yesus ke dalam dunia. Allah mampu membuat bayi di kandungan Maria dari Roh Kudus. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempercayai sesuatu yang menurut pikiran kita aneh, tapi itu perbuatan Tuhan. Percayalah!
3. Maria tidak menolak apa yang dikatakan malaikat kepadanya. Maria menyadari bahwa bayi yang ada dikandungannya adalah bayi kudus, Juruselamat manusia. Ia tidak menolak dan memberi diri untuk dipakai Tuhan, walaupun ia tahu itu bukan hal yang mudah. Ia menjadi alat Tuhan untuk melahirkan Yesus, Juruselamat dunia. 
   Saudara... di hari Natal yang indah, penuh damai dan sukacita ini...Allah berbicara apa kepada kita?
Kenapa  Yesus harus lahir ke dalam dunia ini? Kenapa kita harus percaya kepada Yesus...dan apa yang Yesus mau kita lakukan? Melakukan kesenangan-kesenangan kita dengan memuaskan kedagingan kita? Menggunakan moment Natal untuk pesta pora dan mabuk-mabukan? Menggunakan moment ini untuk bersenang-senang, pergi ke tempat karoke, night club, bar atau diskotik? Tentu tidak! Tuhan mau kita menerima kehadiran-Nya di dalam hati kita. Tuhan mau kita menerima kelahiran-Nya di dalam hidup kita. Tuhan mau kita percaya kepada-Nya. Tuhan mau kita datang kepada-Nya dan menyembah Dia. Tuhan mau kita mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Tuhan mau kita menyambut Dia dalam hati dan hidup kita. Yesus, Juruselamat dunia telah lahir...sambutlah Dia !            

Jumat, 31 Oktober 2014

Guru-guru Palsu





“Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.”
(Markus 13:22)


Orang percaya sekarang harus menyadari bahwa di dalam gereja-gereja masa kini mungkin sekali ada pekerja Allah yang sikap dan hidupnya sama dengan guru-guru bejat yang mengajarkan Taurat Tuhan pada zaman Yesus. Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya pada Kristus adalah orang yang sungguh-sungguh percaya, demikian juga tidak semua penulis Kristen, utusan gerejani, gembala sidang, penginjil, pengajar, penatua, dan pekerja-pekerja gereja adalah benar-benar menjadi hamba Allah. Secara lahiriah para rohaniawan ini “tampak benar di mata orang” (Mat. 23:28). Mereka datang “dengan menyamar seperti domba” (Mat. 7:15). Mungkin saja mereka melandaskan berita mereka atas Firman Allah dan menyatakan standar tinggi yang benar. Mereka mungkin kelihatan sangat memperhatikan pekerjaan dan Kerajaan Allah dan memperlihatkan perhatian besar terhadap keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang sambil mengaku bahwa mereka mengasihi orang banyak. Mereka mungkin tampak sebagai hamba Allah yang sungguh-sungguh, pemimpin rohani yang patut dihargai, dan diurapi oleh Roh Kudus. Mereka bahkan kelihatan sangat berhasil dan banyak orang mengikuti mereka. Sekalipun demikian orang-orang ini sangat mirip dengan nabi palsu dalam Perjanjian Lama, orang Farisi dalam Perjanjian Baru. Di dalam kehidupan mereka yang sesungguhnya, yaitu yang tidak tampak kepada umum, mereka dipenuhi “rampasan dan kerasukan” (Mat. 23:25), penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran, penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Kehidupan mereka dibalik pintu yang terkunci menyangkut hal-hal seperti hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, kerakusan dan kegemaran yang memusat pada diri sendiri. Penipu lihai ini memperoleh kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja melalui dua cara :

  1. Beberapa guru / pengkhotbah palsu mengawali pelayanan mereka dengan kesungguhan hati, kebenaran, kemurnian, dan iman yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Kemudian karena kesombongan dan keinginan mereka yang tak bermoral, kasih dan pengabdian mereka  kepada Kristus semakin memudar. Sebagai akibatnya hubungan mereka terputus dengan Kerajaan Allah sehingga mereka menjadi sarana Iblis sementara masih menyamar sebagai pelayan kebenaran.
  2. Guru-guru / pengkhotbah palsu lainnya tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Iblis telah menanamkan mereka di dalam gereja sejak awal pelayanan mereka sambil menggunakan kecakapan dan karisma mereka serta membantu dalam keberhasilan mereka. Siasat Iblis ialah menempatkan mereka dalam kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja agar mereka dapat merusak pekerjaan Kristus. Iblis mengetahui bahwa pada saat perbuatan mereka ketahuan, Injil dan nama Kristus akan sangat dipermalukan.

  CARA-CARA MENGUJI

Empat belas kali dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengingatkan murid-Nya agar waspada terhadap pemimpin-pemimpin yang akan menyesatkan. Di bagian lain orang percaya dinasehati untuk menguji pengajar, pengkhotbah, dan pemimpin di dalam gereja (1 Tes. 5:21; 1 Yoh. 4:1). Hal yang harus diperhatikan:

  1. Perhatikan watak mereka. Adakah mereka itu berdoa dengan tekun serta mengabdi kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh? Apakah mereka sudah menyatakan buah Roh (Gal. 5:22-23), mengasihi orang berdosa (Yoh. 3:16), membenci kefasikan dan mengasihi kebenaran serta gigih menentang dosa?
  2. Perhatikan motivasi mereka. Pemimpin Kristen yang sejati akan berusaha melakukan empat hal : a. Menghormati Kristus. b. Memimpin gereja kepada kekudusan. c. Menyelamatkan orang yang terhilang. d. Memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan ajaran para rasul.
  3. Ujilah buah dalam kehidupan dan berita. Buah atau hasil pelayanan pekerja palsu ini seringkali terdiri atas bertobat yang tidak sepenuhnya menyerah kepada segenap Firman Allah (Mat. 7:16).
  4. Perhatikan tingkat ketergantungan pada Alkitab. Ujian ini sangat menentukan. Apakah mereka percaya dan mengajar bahwa penulisan asli dari PL dan PB sepenuhnya diilhami oleh Allah sehingga kita harus tunduk kepada seluruh ajarannya. Jika tidak, dapat dipastikan bahwa baik mereka maupun berita yang mereka sampaikan tidak berasal dari Allah.
  5. Akhirnya, ujilah kejujuran mereka berkenaan dengan uang Tuhan. Apakah mereka menolak untuk mengambil banyak uang untuk diri mereka, mengatur semua keuangan dengan jujur dan penuh tanggung jawab, dan berusaha memajukan pekerjaan Tuhan dengan cara-cara yang sesuai dengan standar PB (1 Tim. 3:3; 6:9-10)?

Haruslah disadari bahwa kendatipun segala usaha orang percaya yang setia dalam menilai kehidupan dan berita seseorang akan ada guru-guru palsu di dalam gereja, yang dengan bantuan Iblis, tetap tidak diketahui hingga tiba saatnya Allah memutuskan untuk menyingkapkan keadaan mereka yang sesungguhnya.  (Sumber: Alkitab Penuntun)



       

Selasa, 30 September 2014

Menguasai Diri




Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (I Korintus 9:25)

   Kalau saudara adalah salah satu penggemar olah raga, saya yakin pasti saudara menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan-pertandingan yang diadakan apakah pertandingan itu diadakan di tempat dekat saudara tinggal, atau jauh dari tempat tinggal saudara. Apakah saudara menonton secara langsung atau menonton lewat TV atau internet, yang jelas saudara pasti senang menonton acara tersebut. Atau saudara sendiri adalah salah satu atlet yang sering mengikuti even-even pertandingan yang diadakan? Saya merasa bangga melihat saudara, bahkan bukan hanya saya tetapi saya yakin banyak orang di seluruh dunia melihat saudara. Saya kagum melihat para atlet yang sedang bertanding dalam berbagai cabang olahraga. Penampilan mereka sangat mempesona walaupun ada yang kalah, tetapi saya melihat bahwa mereka semua sungguh luar biasa. Karena saya bukan atlet, saya tidak tahu hidup sehari-hari mereka seperti apa. Tapi kemungkinan, mereka setiap hari mengikuti latihan. Latihan yang membutuhkan disiplin yang tinggi. Ini juga yang saya kagumi. Tapi…jangan salah! Bukan hanya atlet saja yang dituntut disiplin yang tinggi dalam kehidupannya. Saya yakin semua bidang, profesi apapun saudara lakukan saat ini, membutuhkan disiplin.


   Disiplin saya bahasakan adalah membiasakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa kita lakukan. Dan biasanya disiplin selalu mengarah kepada hal-hal yang membuat kemajuan dalam hidup kita. Disiplin biasanya mengarah kepada suatu kebaikan, dan secara khusus dalam firman Tuhan saat ini disiplin akan mengarah kepada penguasaan diri.  Kenapa kita harus menguasai diri? Seorang atlet sepak bola misalnya, harus menguasai dirinya supaya tidak terpancing oleh lawan dan berbuat hal yang tidak diinginkan seperti berbuat curang dengan menarik badan lawan yang sedang berusaha memasukkan bola ke gawang. Atau dengan sengaja membuat lawan jatuh sehingga tidak dapat memasukkan bola ke gawang tim kesebelasannya. Hal ini akan merugikan timnya sendiri karena akan diberi hukuman dari wasit seperti tendangan langsung ke gawang dari lawan yang dicurangi tadi. Dan sudah pasti karena jarak yang cukup dekat dengan gawang dan tanpa ada orang yang menghalangi, pasti bola yang ditendang akan masuk gawang dan membuahkan skor keuntungan kepada tim yang dicurangi tadi. Demikian juga dengan kita. Kita harus menguasai diri kita supaya tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan yang akibatnya akan merugikan diri kita sendiri. Dalam Amsal 17: 32  dikatakan: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota”. Pada zaman dulu (zaman sekarang juga ) banyak terjadi peperangan. Bangsa yang lebih kuat akan memerangi bangsa yang lemah dan biasanya kota atau wilayahnya akan dikuasai mereka, dan ini membutuhkan kesiapan yang sangat matang. Banyak hal yang mereka persiapkan dan lakukan dalam peperangan itu sampai mereka dapat merebut /menguasai daerah atau wilayah tersebut.

   Firman Tuhan mengatakan: …orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota”. Saudara, orang yang merebut kota kuat, tapi orang yang menguasai diri lebih kuat dari orang yang merebut kota. Tuhan mau kita menjadi orang yang kuat. Menjadi kuat bukan untuk melawan orang lain, memerangi orang lain, mencurangi orang lain, tetapi menjadi kuat karena mampu menguasai diri dalam melawan dosa-dosa, keinginan daging yang bertentangan dengan firman Tuhan. Dalam kehidupan kita di dunia ini, sebenarnya kita sama seperti atlet yang selalu bertanding. Kita bertanding bukan untuk mendapatkan hadiah uang yang banyak atau medali emas, perak, atau perunggu, tetapi kita bertanding untuk mendapatkan hadiah/mahkota yang abadi. Hadiah/Mahkota kehidupan yang kekal di sorga yang indah dan senang. Untuk mendapatkan hadiah atau mahkota tersebut, selain kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan keselamatan itu adalah anugerah yang diberikan Yesus kepada kita sebagai akibat dari kepercayaan kita kepada-Nya,  kita harus juga melakukan perintah-perintah-Nya kan? Firman Tuhan saat ini mengajarkan kepada kita tentang  “menguasai diri”.  Paulus melukiskannya bahwa jikalau kita gagal menggunakan penguasaan diri, penyangkalan diri dan kasih dalam hubungan kita dengan orang lain, kita sendiri akan ditolak. Paulus menuliskannya dalam ayat selanjutnya, ayat 27: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”.

    “Ditolak” terjemahan dari bahsa asli “adokimos” mengandung arti “gagal dalam ujian”. Paulus menyatakan bahwa Kristus tidak tinggal di dalam “seorang yang gagal dalam ujian” (adokimoi). Paulus menyadari bahwa ada kemungkinan dia bisa gagal untuk memperoleh warisan  /mahkota yang abadi jika ia berhenti hidup kudus, melaksanakan penguasaan diri, dan bertahan dalam kesukaran-kesukaran hidup karena Kristus. Saudara, mari kita belajar seperti rasul Paulus, hidup kudus, menguasai diri,dan bertahan hidup dalam kesukaran karena Kristus, supaya kita mendapatkan hadiah/mahkota yang abadi. Akan ada orang yang dekat dengan kita yang membuat kita marah, kita tergoda untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih. Tapi ingat! Kuasailah diri. Latihlah diri kita untuk menahan segala hal yang membuat kita berdosa. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, kita cenderung untuk membalas, bahkan lebih. Kita berpikir bahwa kita tidak salah, jadi wajar kalau kita membalas kejahatan yang ia lakukan kepada kita, dan kita merasa puas. Tapi Tuhan tidak mengajarkan demikian. Tuhan berkata bahwa" balaslah kejahatan dengan kebaikan". Jika saudara adalah seorang atlet, berusahalah/berlatihlah, bukan hanya untuk mendapatkan piala yang di dunia ini saja, tetapi juga piala yang abadi/kekal di sorga. 
 Selamat bertanding, selamat berjuang, Tuhan menyertai! Amin!

Minggu, 17 Agustus 2014

Orang yang Disertai TUHAN



    Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar untuk menjalani hidup setiap hari, dan keluarga seharusnya menjadi tempat di mana anggota keluarganya merasa nyaman. Namun, pada kenyataannya tidak demikian. Setiap orang memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. Ada yang dilahirkan dari keluarga yang baik, harmonis, saling mengasihi tapi ada juga yang dilahirkan dalam keluarga yang tidak harmonis dengan mengalami penolakan, diskriminasi, dibenci, dan dijauhi oleh keluarganya sendiri. Demikian yang dialami Yusuf anak bungsu dari 12 bersaudara yang seharusnya dikasihi, disayang, bermain dan menggembalakan kambing domba bersama; tetapi malahan dibenci, ditolak,  diancam untuk dibunuh, dimasukkan ke dalam sumur, dan dijual sebagai budak di tempat yang jauh dari keluarga dan orang tuanya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Yusuf pada waktu itu. Yang pasti Yusuf sangat menderita, sedih, ketakutan saat dibuang ke dalam sumur oleh kakak-kakaknya yang pada akhirnya diangkat kembali dari dalam sumur lalu dijual kepada seorang kafilah Ismael yang dari Gilead, yang dalam perjalanan membawa damar, balsam, dan damar ladan menuju ke Mesir.  Yusuf dibawa ke Mesir sekitar tahun 1900 SM. Sekitar 200 tahun setelah panggilan Abraham. Di Mesir ia dijual lagi oleh orang Ismael itu kepada Potifar, seorang pengawal raja di istana Firaun.  
Cerita yang memilukan… namun semua penderitaan Yusuf dilihat Tuhan. Tuhan tidak meninggalkan orang yang baik dan tidak bersalah terus menerus mengalami penindasan dan kesengsaraan. Tuhan menyertai Yusuf sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Dan karena Tuhan menyertai Yusuf, tuannya (Potifar) melihat ia selalu berhasil, ia juga begitu mengasihi Yusuf. Kepada Yusuf diberikan kuasa atas rumah dan segala miliknya dan dengan bantuan Yusuf ia tidak lagi mengatur apapun, selain dari makanannya sendiri. Namun…selang beberapa waktu… cobaan itu datang lagi walaupun dalam bentuk yang lain.  Karena Yusuf seorang anak muda yang manis sikapnya dan elok parasnya, istri Potifar (istri tuannya)  memandangnya dengan birahi dan mengajaknya untuk tidur dengannya.  Itu dilakukannya bukan hanya sekali tapi dari hari ke hari, ia selalu membujuk Yusuf, namun Yusuf selalu menolak. Suatu hari…iblis yang berwujud perempuan itu datang lagi. Ia memegang baju Yusuf dan mengajaknya tidur bersamanya. Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangan perempuan itu dan ia lari ke luar. Namun, karena sudah kehilangan akal sehat,  pikirannya gelap dan buta, ia sama sekali tidak  menyadari apalagi insyaf. Perbuatan jahatnya semakin menjadi-jadi. Setelah ia lihat Yusuf lari keluar meninggalkan dia, dia malah berteriak-teriak dengan suara yang keras dan memanggil seisi rumah dan bercerita bohong (memutarbalikkan fakta). Ia berkata bahwa orang Ibrani (Yusuf) yang dibawa ke rumahnya telah mempermain-mainkan mereka. Ia mengatakan bahwa Yusuf mendekati dia untuk tidur dengan dia dan ia berteriak-teriak sekeras-kerasnya, dan karena ia berteriak, Yusuf lari ke luar. Zaman sekarang juga banyak orang yang mirip seperti perempuan ini. Kehilangan akal sehat. Yang ada dalam pikirannya adalah kejahatan, kebusukan, fitnah dan menjelek-jelekkan orang lain. Berbohong dan memutarbalikkan fakta. Kebenaran disalahkan dan kesalahan dibenarkan. Kita jangan menjadi seperti perempuan  ini, tapi biarlah kita belajar dari Yusuf. Seorang muda yang takut Tuhan dan hidup dalam kemurnian dan kesucian. Ia takut melakukan perbuatan mesum, perbuatan jahat, dan perbuatan-perbuatan yang membuat dia berdosa. Ia lulus dalam ujian kemurnian pribadi. Ujian yang sering dialami anak muda yang jauh dari rumah.  Namun, karena kemurnian imannya itu, ia harus banyak mengalami hal pahit dalam hidupnya. Cerita bohong itu, diceritakan perempuan itu kembali saat suaminya (Potifar) pulang yang akhirnya membangkitkan amarah Potifar dan kemudian Potifar menangkap Yusuf dan memasukkannya ke dalam penjara. Sedih! Orang yang hanya mendengar atau membaca kisahnya saja pasti sedih, apalagi orang yang mengalaminya. Yusuf dihukum bukan karena ia melakukan kesalahan, tapi sebaliknya karena  ia tidak melakukan kesalahan. Tapi…sahabat! Kita tidak usah terlalu lama bersedih mendengar atau membaca kisah Yusuf ini, karena walaupun ia sudah dimasukkan ke dalam penjara, Tuhan tidak meninggalkan dia. Tuhan  selalu menyertai dia dan membuat apa yang dikerjakannya berhasil.

   Terjadi, seorang juru minuman raja dan juru roti
melakukan kesalahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Suatu kali mereka bermimpi dan mereka bersedih karena tidak ada orang yang dapat menafsirkan mimpi mereka. Namun karena Yusuf disertai Tuhan, Tuhan membuat dia dapat menafsirkan mimpi mereka. Sesuai dengan mimpi yang ditafsirkan Yusuf, juru roti dihukum gantung dan juru minuman dikembalikan pada jabatannya semula. Sebenarnya Yusuf berharap bahwa juru minuman dapat membantu melepaskan dia dari penjara dengan cara menceritakan kepada Firaun bahwa ia yang menafsirkan mimpi dan terjadi sesuai dengan apa yang ditafsirkannya. Juru minuman dikembalikan pada jabatanya semula, tapi juru minuman ini tidak mengingat Yusuf sama sekali dan melupakan jasa Yusuf. Namun, setelah lewat dua tahun, raja Firaun bermimpi.  “Pertama: Ia melihat dari sungai Nil, keluar 7 ekor lembu yang gemuk lalu memakan rumput di tepi sungai itu. Lalu tampak juga 7 ekor lembu yang kurus berdiri di samping lembu-lembu yang gemuk lalu memakan lembu-lembu yang gemuk itu. Mimpi yang kedua: tampak timbul dalam 1 tangkai, 7 bulir gandum yang baik dan berisi. Tampak juga 7 bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang berisi”. Firaun terbangun dan gelisah karena mimpi tersebut. Kemudian juru minuman berkata kepada Firaun bahwa ada seorang anak muda Ibrani yang dapat menafsirkan mimpi yang dapat  terjadi sesuai dengan apa yang ia tafsirkan. Namanya adalah Yusuf. Firaun memanggil Yusuf yang berada dalam penjara dan disuruh menghadap Firaun. Yusuf berkata kepada Firaun bahwa kedua mimpinya tersebut artinya sama, yaitu bahwa : “Akan datang 7 tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir, dan kemudian 7 tahun kelaparan. Sampai 2 kali mimpi itu diulang, berarti Allah akan segera melakukannya. Yusuf mengusulkan untuk mengangkat penilik-penilik dan memungut 1/5 dari hasil tanah Mesir untuk disimpan sebagai persediaan pada 7 tahun masa kelaparan.  Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan seluruh pegawainya dan karena Firaun merasa bahwa tidak ada orang seperti Yusuf, maka Firaun mengangkat Yusuf menjadi penguasa di seluruh negeri Mesir.